Senin, 06 Agustus 2012

BAHAGIA

Bahagia bukanlah memiliki segalanya tapi merasa cukup dengan aoa yang kita punya.
Ya, tepatnya ini pas hari kamis ya. Pulang dr sekolah cap3jari.syukuran kecil2an kumpul sama teen2. Biasa lah MMB kan acarane enek ae :D wkwkw..
Pas lagi mau acara rujakan di rumah bagos, di daerah serayu lah ya :D.. terus ya pas lagi kumpul jugak sm bapak ibuk e bagos. Ya sedikit dikasih tetuah. Cieh tetuah,  ya semacam omongan gt. Apa ya. Pokok e gt iku lah ya. Aku rodok jauh se, tp serius ndengerinnya. Dan akhirnya, ak sedikit bingung. Apa ya maksudnya? Ak gakpaham, tp ku cerna sedikit demi sedikit. Ooo..
Bentar2 gini lhoo. Buk tari Tanya dedik “le, kepingin sogeh opo cukupan” dy jawabnya cukupan. Lah kenepo le”buk tari”, soal e lek sogeh surung mesti bahagia ne buk. Jawab buk tari lagi “tak dukung le, wes tak dongakno kabeh sukses dunia akhirat” aaaaaaaminn ya allah amin buk tari.
Ya aku sgt setuju sekali dg statement itu. Kebahagian gak diukur dengan kaya, banyak duit, berfoya2. Bahagia menurutku itu ketika aku bersama keluargaku, bpk ibu mas mbak dan adek2 ponakannku yg guanteng2 :D haha. Yg kedua ketika udah bersama temen2 yg bias membuatku nyaman dan ketawa lepas. Wes nganggep sodara, pokok e intine kebersamaan itu kebahagiaan yang sesungguhnya. Bahagia tapi kalo ujung2nya nyengsarain orang lain ya percuma. Bersakit2 dahulu berbahagia kemudian. Aseeek :D haha..
19/07 – 18:37

Jumat, 03 Februari 2012

esai 2 tugas bindo 4feb2012


Handphone bagi Kehidupan Remaja

Aku dan Handphone

Kehadiran HP atau Handphone telah merubah kehidupan ku. Jarak kendala itu, tak lagi menghalangi. Sebagian besar remaja zaman sekarang merasa dirinya sangat tergantung pada Handphone. Menurutku, kehadiran ponsel sangat membantu kemudahan hidup, komunikasi. Tujuan kemudahan hidup itu pula yang memaksa diriku memutuskan menggunakan HP beberapa tahun silam. Alasannya biar bisa berkomunikasi dengan mudah.
Sebagian besar para remaja mengatakan bahwa tujuan utama menggunakan HP adalah, “Sebagai alat komunikasi dan sebagai penyambung silaturahmi, sebagai hiburan, dan tidak menutup kemungkinan sebagai alat tambahan membantu dalam kelancaran berbisnis.”

Tak bisa dipungkiri lagi, bagi mereka yang hidup di perkotaan, di dunia modern yang menuntut segala sesuatunya serba cepat dan mudah, memiliki ponsel se¬perti sebuah kewajiban. Celah ini tentu menjadi peluang besar para perusahaan komunikasi untuk merauk keuntungan. Mereka berlomba-lomba mengembangkan teknologi yang telah ada guna melahirkan produk-produk baru yang bakal mengisi pasar. Melalui inovasi-inovasi, mereka memaksa insan-insan perkotaan menambah kebutuhan hidupnya. Perkembangan teknologi tentu tidak mungkin mencapai kata sempurna dalam arti sesungguhnya. Oleh karena itu, tidak ada satu teknologi pun yang dikembangkan telah mencapai fase final. Inovasi-inovasi dan penemuan-penemuan berikutnya tetap mengikuti sebuah pencapaian yang telah ada. Proses pun terus berlanjut, mengikuti hasrat, nafsu, dan kebutuhan manusia.

Satu hal yang tidak dapat dihindari adalah teknologi pasti menghadirkan efek samping yang memengaruhi kehidupan manusia. Sekecil apa pun, teknologi pasti memiliki sifat “memaksa”, membuat manusia menjadi tergantung padanya.
Ketergantungan Terhadap Handphone

Beberapa orang mengaku ketergantungannya pada ponsel telah mencapai taraf yang tinggi. Kendati demikian, sifat “memaksa” itu sangat relatif, tentunya. Di tempat-tempat yang jauh dari hingar-bingar perkotaan yang dibalut kemajuan teknologi, mungkin saja masyarakatnya masih belum mampu memba¬yangkan wujud ponsel. Kemajuan peradaban manusia yang beriring dengan berkembangnya kebutuhan hidup, telah memaksanya kehadiran ponsel. Kehadirannya telah mengubah pola hidup manusia. Ponsel menjadi pemeran penting yang membentuk gaya hidup seseorang dan juga masyarakat. Kata orang pintar, inilah kemajuan zaman. Suka atau tidak kehadirannya tak dapat dielakkan.
Dampak Positif dan Negatif Handphone

Kemajuan teknologi ponsel yang sangat pesat menimbulkan dampak positif dan negative bagi para penggunanya, khususnya para remaja.

Dampak Positif :
  1. Mempermudah komunikasi.
  2. Menambah pengetahuan tentang perkembangan teknologi.
  3. Memperluas jaringan persahabatan
Dampak Negatif :
  1. Mengganggu Perkembangan Anak :
    Dengan canggihnya fitur-fitur yang tersedia di hand phone (HP) seperti : kamera, permainan (games) akan mengganggu remaja dalam menerima pelajaran di sekolah/di kampus. Tidak jarang mereka disibukkan dengan menerima panggilan, sms, miscall dari teman mereka bahkan dari keluarga mereka sendiri. Lebih parah lagi ada yang menggunakan HP untuk mencontek (curang) dalam ujian. Bermain game saat guru/dosen menjelaskan pelajaran dan sebagainya. Kalau hal tersebut dibiarkan, maka generasi yang kita harapkan akan menjadi budak teknologi.
  2. Efek radiasi
    Selain berbagai kontroversi di seputar dampak negatif penggunaannya,. penggunaan HP juga berakibat buruk terhadap kesehatan, ada baiknya remaja lebih hati-hati dan bijaksana dalam menggunakan atau memilih HP, khususnya bagi pelajar anak-anak. Jika memang tidak terlalu diperlukan, sebaiknya anak-anak jangan dulu diberi kesempatan menggunakan HP secara permanen.
  3. Rawan terhadap tindak kejahatan.
    Ingat, remaja dan pelajar merupakan salah satu target utama dari pada penjahat.
  4. Sangat berpotensi mempengaruhi sikap dan perilaku remaja.
    Jika tidak ada kontrol dari orang tua. HP bisa digunakan untuk menyebarkan gambar-gambar yang mengandung unsur porno dan sebagainya yang sama sekali tidak layak dilihat seorang pelajar.
  5. Pemborosan
    Dengan mempunyai HP, maka pengeluaran kita akan bertambah, apalagi kalau HP hanya digunakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat maka hanya akan menjadi pemborosan yang saja.


tugas bahasa indonesia 2 mite 4feb2012


Originally Posted by antasena_kekota View Post
DEWI SRITANJUNG Adalah putra Nakula, dari kesatrian Sawojajar, negara Amarta dengan Dewi Srengganawati, putri Resi Badawanganala, kura-kura raksasa yang tinggal di sungai/narmada Wailu (menurut Purwacarita, Badawanangala dikenal sebagai raja negara Gisiksamodra/Ekapratala).
Dewi Sritanjung mempunyai dua orang saudara seayah lain ibu, putra Dewi Sayati, masing-masing bernama ; Bambang Pramusinta dan Dewi Pramuwati.
Dewi Sritanjung berwajah sangat cantik, cerdas, pandai dan tahan uji. Ia merupakan prajurit wanita yang sangat sakti dan tangguh, serta mempunyai wasiat sebuah cupu berisi "air kehidupan/banyu panguripan" atas pemberian ibunya, dan aji pengasihan pemberian kakeknya.
Sejak kecil Dewi Sritanjung tinggal bersama kakeknya, Resi Badawangangala di pertapaan Wailu.
Setelah berakhirnya perang Bharatayuda, Dewi Sritanjung pergi ke negara Astina untuk mencari ayahnya.
Di perjalanan ia bertemu dengan Prabu Ajibarang, raja raksasa dari negara Gowasiluman di hutan Tunggarana yang berhasil menipunya dan diajak bersama-sama menyerang negara Astina.
Di negara Astina Dewi Sri Tanjung bertemu dengan Bambang Widapaksa, saudara sepupunya, putra Sahadewa dengan Dewi Srengganawati.
Mereka kemudian bersama-sama membunuh Prabu Ajibarang.
Oleh ayah mereka. Nakula dan Sahadewa, Dewi Sri Tanjung dan Bambang Widapaksa kemudian diperjodohkan, dan diangkat menjadi panglima-panglima Astina di bawah pemerintahan Prabu Parikesit.

http://ki-demang.com/gambar_wayang/i...63&Itemid=1072
srì Tanjung


P. J. Zoetmulder (1983:542) membuat ikhtisar kidung srì Tanjung sebagai berikut. srì Tanjung merupakan kelanjutan dari Sudamala dan menyajikan kisah tentang kedua cucu Tambapetra, yakni Siddhapaksa, putra Sakula dan srì Tanjung, puteri Sahadeva. Siddhapaksa berjumpa dengan srì Tanjung ketika ia diutus oleh majikannya, raja Sulakrama dari Sinduraja, dan singgah dipertapaan tempat srì Tanjung tinggal bersama kakeknya. srì Tanjung dibawa dari sana oleh Siddhapaksa sebagai istrinya. Kecantikannya menimbulkan nafsu sang raja, yang merancanakan sebuah akal agar suami srì Tanjung pergi. Siddhapaksa diutus ke Kahyangan Dewa Indra untuk membereskan hutang Dewa Indra pada sang raja, tetapi dalam surat yang diserahkan Siddhapaksa dituduh merencanakan sesuatu kejahatan kepada para Dewa. Ia berhasil mengatasi mara bahaya dalam perjalanan itu dan dalam waktu satu hari ia mencapai sorga berkat baju ajaib yang pernah diterima oleh Sahadeva, ayah srì Tanjung dari Ra Nini sebagai tanda terima kasih karena Sahadeva telah membebaskan Ra Nini dari sebuah kutukan.

Selama suaminya tidak ada srì Tanjung melawan segala godaan raja. Di sorga Siddhapaksa hampir saja dibunuh, sampai suatu saat identitasnya berhasil diketahui yakni sebagai seorang putra para Pànðava, dan dengan demikian “cucu” Indra sendiri. Selama tujuh hari ia hidup bersama bidadari lalu pulang ke bumi. Di sana ia diberitahu oleh raja, bahwa isterinya main serong ketika suaminya pergi. Tanpa menanyakan apakah tuduhan itu benar – sebetulnya aneh mengingat pengalamannya sendiri di sorga - ia membawa srì Tanjung ke pekuburan Gandamayu dan membunuhnya. Darahnya yang harum menginsyafkan Siddhapaksa isterinya tidak berdosa, tetapi segalanya sudah terlanjur dan ia menjadi gila karena rasa kesal dan duka cita.


Arwah srì Tanjung turun ke kerajaan maut, mengunjungi orang-orang yang terkutuk di neraka dan tiba di pintu gerbang surga. Tetapi di sana ia ditolak karena waktu penerimaan baginya belum tiba. Alam raya bergoyang ketika arwah srì Tanjung kembali ke tubuhnya yang masih terbaring di perkuburan. Rupanya baru saat itulah para Dewa menjadi maklum akan kematian srì Tanjung. Sakti siva (masih dalam bentuknya yang mengeTàrkan sebagi Ra Nini) turun kebumi, menghidupkan kembali puteri Sahadeva yang telah berbuat baik padanya, lalu melakukan suatu upacara penyucian terhadap srì Tanjung untuk melindungi terhadap segala macam penyakit dan kesakitan, nasib malang, sihir dan fitnah (dengan meniadakan akibatnya dalam masa yang silam atau menjadikannya kebal terhadap segalanya itu di masa mendatang); sesudah itu srì Tanjung diutus ke Prangalas. Di sana srì Tanjung menceritakan apa yang terjadi dan kakeknya melakukan suatu upacara lukat lainya baginya. Ra Nini juga membantu Siddhapaksa ketika dia dalam keadaan putus asa datang ke Gandamayu dan mau menikam diri. Atas nasehatnya ia kembali ke Prangalas. Tetapi srì Tanjung tidak mau menjumpainya, kecuali bila Siddhapaksa membawa membawa kepala raja Sulakrama. Para pertapa dari Prangalas dan para Pànðava membantunya dalam mengalahkan tentara Sinduraja dan membunuh rajanya (cerita tiba-tiba terputus di sini).


tugas bahasa indonesia sabtu 4 februari 2012



Nun dupa mengalun...buka tabir purbakala riwayat priangan ibu nan menanggung malang.Dipercinta oleh putra sangkuriang sakti,walau mengetahui itu ibunya sejat
Agar dapat berlari di gelap malam,di minta menyiapkan tlaga dan perahu semalam
Nun di timur fajar tiba sebelum waktunya,sangkuriang murka tak memenuhi janjinya

(lirik lagu di atas adalah diskripsi dari legenda Gunung tangkuban perahu)

Dikisaahkan :
Pada jaman dahulu kala, di tatar Parahyangan, berdiri sebuah kerajaan yang gemah ripah lohjinawi kerta raharja. Tersebutlah sang prabu yang gemar olah raga berburu binatang, yang senantiasa ditemani anjingnya yang setia, yang bernama "Tumang".

Pada suatu ketika sang Prabu berburu rusa, namun telah seharian hasilnya kurang menggembirakan. Binatang buruan di hutan seakan lenyap ditelan bumi. Ditengah kekecewaan tidak mendapatkan binatang buruannya, sang Prabu dikagetkan dengan nyalakan anjing setianya "Tumang" yang menemukan seorang bayi perempuan tergeletak diantara rimbunan rerumputan. Alangkah gembiranya sang Prabu, ketika ditemukannya bayi perempuan yang berparas cantik tersebut, mengingat telah cukup lama sang Prabu mendambakan seorang putri, namun belum juga dikaruniai anak. Bayi perempuan itu diberi nama Putri Dayangsumbi.

Alkisah putri Dayngsumbi nan cantik rupawan setelah dewasa dipersunting seorang pria, yang kemudian dikarunia seorang anak laki-laki yang diberi nama Sangkuriang yang juga kelak memiliki kegemaran berburu seperti juga sang Prabu. Namun sayang suami Dayangsumbi tidak berumur panjang.

Suatu saat, Sangkuriang yang masih sangat muda belia, mengadakan perburuan ditemani anjing kesayangan sang Prabu yang juga kesayangan ibunya, yaitu Tumang. Namun hari yang kurang baik menyebabkan perburuan tidak memperoleh hasil binatang buruan. Karena Sangkuriang telah berjanji untuk mempersembahkan hati rusa untuk ibunya, sedangkan rusa buruan tidak didapatkannya, maka Sangkuriang nekad membunuh si Tumang anjing kesayangan ibunya dan juga sang Prabu untuk diambil hatinya, yang kemudian dipersembahkan kepada ibunya.

Ketika Dayangsumbi akhirnya mengetahui bahwa hati rusa yang dipersembahkan putranya tiada lain adalah hati "si Tumang" anjing kesayangannya, maka murkalah Dayangsumbi. Terdorong amarah, tanpa sengaja, dipukulnya kepala putranya dengan centong nasi yang sedang dipegangnya, hingga menimbulkan luka yang berbekas. Sangkuriang merasa usaha untuk menggembirakan ibunya sia-sia, dan merasa perbuatannya tidak bersalah. Pikirnya tiada hati rusa, hati anjingpun jadilah, dengan tidak memikirkan kesetiaan si Tumang yang selama hidupnya telah setia mengabdi pada majikannya. Sangkuriangpun minggat meninggalkan kerajaan, lalu menghilang tanpa karana.

Setelah kejadian itu Dayangsumbi merasa sangat menyesal, setiap hari ia selalu berdoa dan memohon kepada Hyang Tunggal, agar ia dapat dipertemukan kembali dengan putranya. Kelak permohonan ini terkabulkan, dan kemurahan sang Hyang Tunggal jualah maka Dayangsumbi dikaruniai awet muda. Syahdan Sangkuriang yang terus mengembara, ia tumbuh penjadi pemuda yang gagah perkasa, sakti mandraguna apalgi setelah ia berhasil menaklukan bangsa siluman yang sakti pula, yaitu Guriang Tujuh.

Dalam suatu saat pengembaraannya, Sangkuriang tanpa disadarinya ia kembali ke kerajaan dimana ia berasal. Dan alur cerita hidup mempertemukan ia dengan seorang putri yang berparas jelita nan menawan, yang tiada lain ialah putri Dayangsumbi. Sangkuriang jatuh hati kepada putri tersebut, demikianpula Dayangsumbi terpesona akan kegagahan dan ketampanan Sangkuriang, maka hubungan asmara keduanya terjalinlah. Sangkuriang maupun Dayangsumbi saat itu tidak mengetahui bahwa sebenarnya keduanya adalah ibu dan anak. Sangkuriang akhirnya melamar Dayangsumbi untuk dipersunting menjadi istrinya.
Namun lagi lagi alur cerita hidup membuka tabir yang tertutup, Dayangsumbi mengetahui bahwa pemuda itu adalah Sangkuriang anaknya, sewaktu ia melihat bekas luka dikepala Sangkuriang, saat ia membetulkan ikat kepala calon suaminya itu.

Setelah merasa yakin bawa Sangkuriang anaknya, Dayangsumbi berusaha menggagalkan pernikahan dengan anaknya. Untuk mempersunting dirinya, Dayangsumbi mengajukan dua syarat yang harus dipenuhi Sangkuriang dengan batas waktu sebelum fajar menyingsing. Syarat pertama, Sangkuriang harus dapat membuat sebuah perahu yang besar. Syarat kedua, Sangkuriang harus dapat membuat danau untuk bisa dipakai berlayarnya perahu tersebut.
Sangkuriang menyanggupi syarat tersebut, ia bekerja lembur dibantu oleh wadiabalad siluman pimpinan Guriang Tujuh untuk mewujudkan permintaan tersebut. Kayu kayu besar untuk perahu dan membendung sungai Citarum, ia dapatkan dari hutan di sebuah gunung yang menurut legenda kelak diberi nama Gunung Bukit Tunggul. Adapun ranting dan daun dari pohon yang dipakai kayunya, ia kumpulkan disebuah bukit yang diberi nama gunung Burangrang.

Sementara itu Dayangsumbi-pun memohon sang Hyang Tunggal untuk menolongnya, menggagalkan maksud Sangkuriang untuk memperistri dirinya. Sang Hyang Tunggal mengabulkan permohonan Dayangsumbi, sebelum pekerjaan Sangkuriang selesai, ayampun berkokok dan fajar menyingsing ……. Sangkuriang murka, mengetahui ia gagal memenuhi syarat tersebut, ia menendang perahu yang sedang dibuatnya. Perahu akhirnya jatuh menelungkup dan menurut legenda kelak jadilah Gunung Tangkubanparahu, sementara aliran Sungai Citarum yang dibendung sedikit demi sedikit membentuk danau Bandung.

Kesesuaian dengan fakta geologi

Legenda Sangkuriang sesuai dengan fakta geologi terciptanya Danau Bandung dan Gunung Tangkuban Parahu.

Penelitian geologis mutakhir menunjukkan bahwa sisa-sisa danau purba sudah berumur 125 ribu tahun. Danau tersebut mengering 16.000 tahun yang lalu.

Telah terjadi dua letusan Gunung Sunda purba dengan tipe letusan Plinian masing-masing 105.000 dan 55.000-50.000 tahun yang lalu. Letusan plinian kedua telah meruntuhkan kaldera Gunung Sunda purba sehingga menciptakan Gunung Tangkuban Parahu, Gunung Burangrang (disebut juga Gunung Sunda), dan Gunung Bukittunggul.

Adalah sangat mungkin bahwa orang Sunda purba telah menempati dataran tinggi Bandung dan menyaksikan letusan Plinian kedua yang menyapu pemukiman sebelah barat Ci Tarum (utara dan barat laut Bandung) selama periode letusan pada 55.000-50.000 tahun yang lalu saat Gunung Tangkuban Parahu tercipta dari sisa-sisa Gunung Sunda purba. Masa ini adalah masanya Homo sapiens; mereka telah teridentifikasi hidup di Australia selatan pada 62.000 tahun yang lalu, semasa dengan Manusia Jawa (Wajak) sekitar 50.000 tahun yang lalu.

Diposkan oleh JinGGa on Monday, October 19, 2009


Kamis, 26 Januari 2012

26jan12

never say,”Oh God! I have some complicated problems”—
better to say”Hay problems! I have a Great God!”
never say,”Oh God! I have some complicated problems”—
better to say”Hay problems! I have a Great God!”
never say,”Oh God! I have some complicated problems”—
better to say”Hay problems! I have a Great God!”