Tampilkan postingan dengan label tugas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tugas. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Februari 2012

tugas bahasa indonesia 2 mite 4feb2012


Originally Posted by antasena_kekota View Post
DEWI SRITANJUNG Adalah putra Nakula, dari kesatrian Sawojajar, negara Amarta dengan Dewi Srengganawati, putri Resi Badawanganala, kura-kura raksasa yang tinggal di sungai/narmada Wailu (menurut Purwacarita, Badawanangala dikenal sebagai raja negara Gisiksamodra/Ekapratala).
Dewi Sritanjung mempunyai dua orang saudara seayah lain ibu, putra Dewi Sayati, masing-masing bernama ; Bambang Pramusinta dan Dewi Pramuwati.
Dewi Sritanjung berwajah sangat cantik, cerdas, pandai dan tahan uji. Ia merupakan prajurit wanita yang sangat sakti dan tangguh, serta mempunyai wasiat sebuah cupu berisi "air kehidupan/banyu panguripan" atas pemberian ibunya, dan aji pengasihan pemberian kakeknya.
Sejak kecil Dewi Sritanjung tinggal bersama kakeknya, Resi Badawangangala di pertapaan Wailu.
Setelah berakhirnya perang Bharatayuda, Dewi Sritanjung pergi ke negara Astina untuk mencari ayahnya.
Di perjalanan ia bertemu dengan Prabu Ajibarang, raja raksasa dari negara Gowasiluman di hutan Tunggarana yang berhasil menipunya dan diajak bersama-sama menyerang negara Astina.
Di negara Astina Dewi Sri Tanjung bertemu dengan Bambang Widapaksa, saudara sepupunya, putra Sahadewa dengan Dewi Srengganawati.
Mereka kemudian bersama-sama membunuh Prabu Ajibarang.
Oleh ayah mereka. Nakula dan Sahadewa, Dewi Sri Tanjung dan Bambang Widapaksa kemudian diperjodohkan, dan diangkat menjadi panglima-panglima Astina di bawah pemerintahan Prabu Parikesit.

http://ki-demang.com/gambar_wayang/i...63&Itemid=1072
srì Tanjung


P. J. Zoetmulder (1983:542) membuat ikhtisar kidung srì Tanjung sebagai berikut. srì Tanjung merupakan kelanjutan dari Sudamala dan menyajikan kisah tentang kedua cucu Tambapetra, yakni Siddhapaksa, putra Sakula dan srì Tanjung, puteri Sahadeva. Siddhapaksa berjumpa dengan srì Tanjung ketika ia diutus oleh majikannya, raja Sulakrama dari Sinduraja, dan singgah dipertapaan tempat srì Tanjung tinggal bersama kakeknya. srì Tanjung dibawa dari sana oleh Siddhapaksa sebagai istrinya. Kecantikannya menimbulkan nafsu sang raja, yang merancanakan sebuah akal agar suami srì Tanjung pergi. Siddhapaksa diutus ke Kahyangan Dewa Indra untuk membereskan hutang Dewa Indra pada sang raja, tetapi dalam surat yang diserahkan Siddhapaksa dituduh merencanakan sesuatu kejahatan kepada para Dewa. Ia berhasil mengatasi mara bahaya dalam perjalanan itu dan dalam waktu satu hari ia mencapai sorga berkat baju ajaib yang pernah diterima oleh Sahadeva, ayah srì Tanjung dari Ra Nini sebagai tanda terima kasih karena Sahadeva telah membebaskan Ra Nini dari sebuah kutukan.

Selama suaminya tidak ada srì Tanjung melawan segala godaan raja. Di sorga Siddhapaksa hampir saja dibunuh, sampai suatu saat identitasnya berhasil diketahui yakni sebagai seorang putra para Pànðava, dan dengan demikian “cucu” Indra sendiri. Selama tujuh hari ia hidup bersama bidadari lalu pulang ke bumi. Di sana ia diberitahu oleh raja, bahwa isterinya main serong ketika suaminya pergi. Tanpa menanyakan apakah tuduhan itu benar – sebetulnya aneh mengingat pengalamannya sendiri di sorga - ia membawa srì Tanjung ke pekuburan Gandamayu dan membunuhnya. Darahnya yang harum menginsyafkan Siddhapaksa isterinya tidak berdosa, tetapi segalanya sudah terlanjur dan ia menjadi gila karena rasa kesal dan duka cita.


Arwah srì Tanjung turun ke kerajaan maut, mengunjungi orang-orang yang terkutuk di neraka dan tiba di pintu gerbang surga. Tetapi di sana ia ditolak karena waktu penerimaan baginya belum tiba. Alam raya bergoyang ketika arwah srì Tanjung kembali ke tubuhnya yang masih terbaring di perkuburan. Rupanya baru saat itulah para Dewa menjadi maklum akan kematian srì Tanjung. Sakti siva (masih dalam bentuknya yang mengeTàrkan sebagi Ra Nini) turun kebumi, menghidupkan kembali puteri Sahadeva yang telah berbuat baik padanya, lalu melakukan suatu upacara penyucian terhadap srì Tanjung untuk melindungi terhadap segala macam penyakit dan kesakitan, nasib malang, sihir dan fitnah (dengan meniadakan akibatnya dalam masa yang silam atau menjadikannya kebal terhadap segalanya itu di masa mendatang); sesudah itu srì Tanjung diutus ke Prangalas. Di sana srì Tanjung menceritakan apa yang terjadi dan kakeknya melakukan suatu upacara lukat lainya baginya. Ra Nini juga membantu Siddhapaksa ketika dia dalam keadaan putus asa datang ke Gandamayu dan mau menikam diri. Atas nasehatnya ia kembali ke Prangalas. Tetapi srì Tanjung tidak mau menjumpainya, kecuali bila Siddhapaksa membawa membawa kepala raja Sulakrama. Para pertapa dari Prangalas dan para Pànðava membantunya dalam mengalahkan tentara Sinduraja dan membunuh rajanya (cerita tiba-tiba terputus di sini).


Jumat, 09 Desember 2011

tugas bahasa indonesia SABTU besok 2


Desember 30th, 2008 by agnez
Desahan angin malam masuk ke dalam sukmaku. Membawa angan serta diriku menari bersamanya. Lampu beralaskan bintang terus bersinar indah seperti mengisyaratkan kedipan yang cantik ke arahku. Sungguh indah malam ini. Mimpi yang dibalut kecerahan sangat kudamba disaat sekarang.
Tiba-tiba saja keramaian bayang itu semakin kabur, meninggalkan bercak keheningan pada malam yang semakin pekat. Aku terbangun. Semua terlihat samar-samar pada mulanya. Kujelikan lagi pandanganku. Sebuah kamar yang terang dengan empat lampunya membuatku ingat di mana sekarang berada.
Seorang bocah tertidur pulas diatas ranjang yang bersih. Ia tampak tenang walaupun, dalam rautnya terlihat jelas akan kesakitan yang dihadapinya. Sudah hampir 24 jam aku menantinya sadar namun, belum sedikit pun ia membuka matanya.
Aku memandangnya dengan hati yang pilu. Merasa bahwa diri ini tak pantas menjadi seorang kakak, apalagi seorang pelindung baginya. Dinginnya angin malam seakan kembali mengingatkanku akan semua hal yang telah terlewati. Jiwaku terus menelusuri jejak masa lampau yang telah usang. Mengais berkas mimpi yang pernah terangkai.
Malam yang gelap menekanku amat dalam kala itu, seperti telah menandakan akan sesuatu yang tragis.
Aku kembali pada bayangan yang telah lampau. Bayangan tentang Ibu yang terkulai lemas tanpa asa untuk hidup. Aku sangat sedih jika mengingat kenyataan ini. Mengetahui fakta bahwa Ibu tak sanggup lagi menjalani kehidupannya. Aku mendekapnya dengan begitu erat, seakan tak ingin berpisah darinya.
“Ibu. Ibu, bersabarlah dalam menghadapi semua cobaan ini. Aku yakin Ibu bisa melewatinya dan kembali seperti sedia kala,” ujarku pada Ibu. Ia tersenyum sedih sembari menatapku lekat.
“Kau anak yang kuat, Dinda. Bahkan, saat kau mengetahui jati dirimu kau tak pernah menganggapku sebagai orang lain dalam hidupmu, bahkan tidak juga pada Rega. Aku tak tahu, apa aku pantas kau tangisi, Nak,” ujarnya dengan raut yang sendu.
“Ibu tak boleh berkata begitu. Aku ini anakmu, Bu. Kau yang berjuang begitu keras untuk membesarkanku. Kaulah satu-satunya orang yang mempercayaiku di saat tak ada rasa percaya lagi dalam diriku. Kaulah penunjuk arahku, Bu. Aku tak tahu lagi bagaimana nantinya hidupku dan Rega berlanjut tanpamu.”
Ibu mengangguk pelan. Aku tahu kata-kataku hanya akan menambah beban lagi dalam benaknya. Namun, aku ingin Ibu tahu bahwa ia tak sendiri di dunia ini, masih ada anak-anaknya yang selalu sayang padanya. Masih ada aku dan Rega.
“Dinda, Ibu mohon padamu untuk menjadi kakak yang baik bagi adikmu, Rega. Ibu tahu, perasaannya belum bisa menerima secara utuh kehadiranmu sebagai kakaknya setelah apa yang ia tahu mengenai dirimu yang sebenarnya. Ini semua salah Ibu, Ibu tak berterus terang padanya sejak awal mengenai kakaknya. Namun, Ibu berharap kau bisa sayang padanya seperti kau sayang pada saudara kandungmu sendiri. Maafkan Ibu karena telah membebanimu begitu berat di usia remajamu ini. Maafkan Ibu karena tak bisa berbuat banyak untuk kalian dalam kondisi seperti ini. Hanya kaulah yang Ibu percaya untuk menjaga adikmu. Jadilah pembimbing yang baik bagi adikmu. Berjanjilah demi Ibu, Dinda.”
Aku mengusap titikkan airmata yang menetes dari pelupuk mataku, seraya mengangguk dengan yakin dan berkata parau, ”Ya Bu, aku janji.”
Angin kencang berdesir menembus tubuh kakuku, meninggalkan diriku yang berdiri terpatung sendiri. Hembusannya mereda dan di saat itulah aku sadari bahwa Ibu juga telah pergi bersama angin yang berlalu.
Aku terisak begitu lama sehingga tak kenal waktu lagi. Entah ini bodoh apa tidak. Entah apa kata orang tentangku, aku tak peduli lagi. Hati ini terlanjur hancur, jiwa ini sakit. Aku tak tahu bagaimana lagi cara mengungkapkan dalam batin ini jika, aku teramat sedih. Aku juga tak tahu bagaimana menghilangkan perasaan kacau yang kudera saat saat ini.
Kenyataan memang begitu pahit. Kehilangan sosok ibu yang membimbingku semenjak kecil hingga menjadi seorang remaja seperti ini begitu membekas pada relung jiwaku. Walaupun ku tahu, kehilangan orang yang kusayang bukan berarti kehilangan seluruh jiwa dan ragaku. Aku paham apapun yang terjadi, aku tak boleh terlarut terlalu lama di dalamnya.
Sesak diri ini terlalu lama terpatri dalam hati, hingga ku tak tahu lagi bagaimana harus bersikap menjadi kakak bagi adikku yang mulai tumbuh dewasa. Mungkin saja ia sering menganggapku orang yang munafik karena, bersikap begitu baik padanya. Apalagi, jika mengingat-ingat masa lampau. Tak pernah aku menggubrisnya sedikit pun. Di kala sedih aku tak ada di sampingnya, di kala senang aku juga tak ada bersamanya. Namun, kini semua telah berubah. Aku harus mulai menata diri untuk menjadi seseorang yang pantas menjaga dan membimbingnya seperti kala Ibu dahulu. Mungkin perubahan sikapku inilah yang membuatnya terasa menjauh dariku. Tak mengacuhkanku bahkan tidak pula menganggapku sebagai pendampingnya saat ini.
Aku masih menatapnya dalam. Ia sangat mirip dengan Ibu. Wajah polosnya sungguh tak pantas untuk menghadang dunia yang berkelit dengannya. Entah mengapa aku tak pernah membencinya akan semua sikapnya selama ini padaku.
Bayangan akan lukisan masa lalu tercipta lagi dalam benakku. Padahal, aku telah berusaha cukup keras agar tak pernah lagi mengaisnya. Entah mengapa kenangan itu terputar lagi untuk kedua kalinya, tanpa kukehendaki.
Aku melihatnya bersembunyi takut di balik dinding yang kokoh itu, bagai bayi yang melihat takut pada dunia barunya. Ia dengan baju hitam yang membalut tubuh kecilnya tak sedikit pun berhenti terisak sepanjang hari itu. Ia terus menatap ke arah gundukan tanah yang baru saja dibangun, sembari sesekali melirikku lirih.
Aku tahu yang dirasanya saat itu sama dengan yang kurasa. Deritanya dan kesedihannya , sama seperti yang kurasa. Namun, mungkin saja pemahaman akan arti penderitaan di antara kami yang berbeda. Aku telah tumbuh menjadi remaja kala itu sedang ia, masih terlalu kecil untuk melihat saat-saat pahit seperti ini. Mungkin, luka pada hatinya lebih parah daripada diriku.
Ada satu hal yang membuat kami tak sama layaknya keluarga yang lain. Satu masalah yang takkan pernah terselesaikan di antara kami bahkan, tidak pula setelah Ibu telah tiada. Aku dan dia adalah saudara layaknya kakak dan adik. Namun, yang sebenarnya terjadi adalah, aku tak pernah sedarah dengannya. Aku tak lain hanyalah sebatas anak angkat. Itulah yang membuatnya agak canggung denganku terlebih-lebih, saat ia tahu itu setelah 6 tahun hidup bersamaku dengan akrab layaknya  dua saudara yang tak pernah terpisahkan. Saat ia megetahui semua kebohongan yang telah rapi terangkai, rasa kecewa yang begitu mendalam telah mengiris perasaannya, menyisakan bekas luka di hatinya. Entah sampai kapan.
Malam semakin menyala dengan bulannya yang tak berhenti padam seakan tak ingin tergantikan dengan yang lain. Adikku masih terkulai lemah di atas ranjang. Infus dan semua obat-obatannya membuatku meringis. Aku tak tahan dengan penderitaan. Namun, aku juga tak mampu untuk menghentikannya.
Aku berjalan menuju jendela. Melihat kota dari gedung yang tinggi dengan lirih. Pikiranku melayang lagi pada masa lampau.Kupejamkan mata untuk melihat dan merasakan letak detak jantungku, tempat di mana aku merasa dan memahami semuanya. Aku menitikkan airmata. Entah mengapa, kesesakan yang kupendam amat perih kurasa. Apalagi, jika mengingat-ingat kejadian yang baru saja terjadi. Saat aku dan adikku bercekcok pada hari sebelumnya dan di saat aku tahu tentang kecelakaan tragis yang hampir merenggut nyawanya.
Saat subuh menjelang kulihat Rega dengan wajah yang pucat dan tubuh yang berbau menyengat. Aku sungguh tak tahan melihatnya begitu berantakan. Hampir setiap hari kutegur ia agar merubah sikapnya yang sedemikina buruk. Kali ini aku benar-benar tak tahan lagi.
“Darimana saja dirimu? Apa aku tak sadar, jam berapa ini?” tanyaku dengan sedikit berteriak. Ia mengerling ke arahku. Pandangannya menjurus seperti hendak menikamku akan tetapi, aku tak sedikit pun berpaling darinya.
“Apa pedulimu padaku?” tanyanya merancau. Aku tahu ini karena pengaruh alkohol yang berbau busuk itu.
“Kau benar-benar kacau, Rega! Lihat dirimu!. Bagaimana bisa kau menjadi seperti itu?! Pasti ini semua karena pergaulanmu yang rusak itu.” Ia masih memandangku tajam.
“Jangan salahkan siapapun! Ini semua salahmu! Salahkan saja dirimu sendiri!” ujarnya berkelit. Hatiku bertambah panas mendengar ucapannya.
“Ya, terus saja menyalahkanku! Aku tak tahu lagi bagaimana cara membimbingmu! Ibu pasti sangat kecewa melihatmu begini,” ujarku seraya meninggalkan Rega yang masih menjerit tak jelas.
“Terus saja kau membuat alasan yang sama! Terus saja Ibu! Ibu! Kau yang salah! Kau membuatku muak! Aku benci kau!” teriaknya dengan jelas. Aku menitikkan airmata mendengarnya. Hatiku sudah sangat sakit menghadapinya.
“Enyahlah kau!” balasku pada akhirnya.
Setelah beberapa saat berlalu, aku mendengar suara pintu yang berdebam keras dan bunyi motor yang meraung-raung. Rega telah pergi dari rumah ini,  itu memberi sedikit ketenangan bagiku namun, entah mengapa juga mebuatku gelisah. Tak kusangka pertemuan dengannya kala itu adalah pertemuanku yang terakhir sebelum kecelakaan tragis itu mendatanginya.
Aku menyesal dengan apa yang telah kuucapkan saat terakhir bertemu dengannya. ‘Enyahlah kau’, kenapa aku harus berkata demikian? Kenapa aku tak mengalah saja kala itu? Pastilah semua ini tak perlu terjadi. Menyesalinya sungguh perbuatan yang sia-sia karena, semua telah terjadi. Aku tahu itu. Mungkin, apa yang terjadi pada adikku adalah suratan takdir yang memang harus ia tempuh.
Terkadang, aku bertanya-tanya dalam hati. Apakah aku bukan kakak yang baik? Apa yang belum kuperbuat untuk adikku? Apa aku belum cukup berkorban untuknya? Apa aku ini terlalu egois? Atau apa aku juga harus mengorbankan jiwa ini untuknya? Namun, aku tahu tak ada gunanya meratapi semua kegundahan hatiku ini. Aku hanya ingin Rega sadar betapa pentingnya ia bagiku. Aku hanya ingin ia mengerti bahwa, ia tak sendiri di dunia ini. Ia masih memilikiku sebagai pembimbing hidupnya. Mungkin aku hanya bisa berharap, suatu saat nanti ia akan kembali padaku dan memanggiku ‘kakak’seperti sedia kala.
Suatu malam saat aku pulang kerja, aku melihat sepeda motor yang tak asing lagi bagiku terparkir di sebuah pub malam. Aku tahu adikku ada di sana. Aku tak pernah mempunyai nyali untuk memarahinya karena aku tak mau membuatnya tertekan dan menyakitinya. Aku sangat sayang padanya hingga tak tahu lagi bagaimana cara untuk menegurnya. Namun, ia selalu menganggapku sebagai orang lain bahkan, sebagai orang yang tak ia anggap sama sekali layaknya sampah. Aku menantinya hingga keluar dari tempat itu dan datang menghampirinya. Keadaannya sangat berantakan bahkan, ia juga seperti setengah sadar.
“Rega, ayo pulang. Lihatlah dirimu, betapa kacaunya kau!” ujarku.
“Memangnya apa peduliku? Kau pulang saja sana!. Aku tak peduli apa yang terjadi padaku dan pada dirimu. Kau mau menangis bahkan mati pun aku tak peduli padamu!” Aku menitikkan airmata mendengar ucapannya.
“Dik..”
“Jangan memanggilku seperti itu! Itu membuatku jijik! Aku tak pernah menganggapmu sebagai kakakku. Sejak kapan kau menjadi kakakku? Kau hanya sok baik agar Ibu lebih bersimpati padamu, kan? Kukira dulu Ibu sangat sayang padamu karena, kau adalah anak pertama namun, ternyata Ibu sayang padamu karena, kau kau memang suka mencari simpati di hadapannya. Aku muak dengan semua itu! Seharusnya kau tak pernah ada dalam hidupku! Kau telah merebut Ibu dariku! Aku sangat membencimu!”
Plak!! Sebuah tamparan kudaratkan pada wajahnya yang memerah. Aku gemetar setelah itu. Aku benar-benar takut. Aku sangat kacau saat itu.
“Kau..?” tanyanya pelan tak percaya. Aku memantapkan hatiku dan menata jalan pikiranku lagi.
“Rega, Kakak tak tahu lagi apa yang  harus kulakukan padamu. Maaf,” ucapanku terputus. Aku berlari meninggalkan Rega yang berdiri terpatung. Aku tak sanggup menahan diri untuk tak mengucapkan ‘maaf’ namun, aku tahu aku tak boleh lemah dihadapannya.
Saat ini malam menjadi semakin larut, membawaku pada keadaan yang telah terjadi. Aku tak peduli seberapa banyak ia menyakitiku, ia tetaplah adikku yang tak boleh kubenci.
Aku menatap wajah pucatnya yang masih terbaring lemah tak berdaya. Coba saja ia sehalus saat ini, pastilah aku tak perlu meyakiti perasaannya dan perasaanku.
“Kak,” suara pelan dan lemah keluar dari bibir Rega.
“Kau sudah sadar, Dik?” Ia berusaha mengangguk namun, tak begitu sanggup untuk melakukannya.
“Kak, maafkan aku. Aku memang bukan adik yang baik untukmu. Maafkan aku karena, telah membuatmu menangis sepanjang malam. Aku memang benar-benar tak tahu diri. Kau begitu menyayangiku dengan setulus hati tapi, aku tak pernah mau mengerti itu semua. Aku hanya bisa menyusahkanmu saja. Maafkan aku, Kak.” Suaranya memang terdengar amat pelan namun, aku tahu ia sangat bersungguh-sungguh.
“Lupakan saja semuanya, Dik. Aku tak peduli seberapa kacau dirimu, tapi kau selalu akan menjadi adikku. Aku sudah sangat senang jika kau memanggilku dengan sebutan kakak. Itu yang kuinginkan selama ini darimu,” ujarku sembari tersedu.
Perasaan kacau yang menderaku berberapa minggu belakangan ini serasa menghilang. Aku yakin Ibu pasti tersenyum di atas sana saat melihat kami begitu akrab seperti saat ini.
“Jadi, kau mau menjadi kakakku lagi?”
“Tentu saja, Rega. Aku akan selalu menjadi kakakmu. Selamanya.” Ia tersenyum kecil.
“Terima kasih, Kak.”
Angin berhembus pelan menerpa wajahku. Menandakan suatu permulaan dari kubu yang hancur. Aku dan adikku. Kami akan saling memilki, bahkan di saat tak ada siapapun di sekitar kami atau saat kami harus pergi dan berpisah.
Aku tahu semua akan berakhir bahagia, bahkan saat aku belum mengetahui awalnya saja, aku tahu bahwa semua akan kembali seperti semula.
“Kakak aku sangat menyayangimu, berjanjilah kita takkan pernah menyakiti.”
“Ya, aku janji.”
http://www.kolomkita.com/2008/12/30/kasih-yang-sesungguhnya/

tugas bahasa indonesia SABTU besok


AKU CINTA SAHABATKU
Oleh NN

Angin sore menerpa wajahku yang sedang asyik-asyiknya melamunkan hal yang ga tau kenapa bisa aku lamunin. Hal ini tuh udah bikin aku galau belakangan ini. Ya, apa lagi kalau bukan jatuh cinta. Jatuh cinta udah ngebuat aku kaya orang bego.
Tiap kali aku makan, wajah dia tuh selalu muncul, ngebayang-bayangin tiap langkah aku ke sekolah, dia tuh bagaikan bintang untukku, slalu nemenin tokoh 'aku' dalam mimpi aku. Sebenernya sih dia tuh temen chattingan facebook aku, dia tuh slalu ada kalau aku lagi sedih, ada masalah, juga kalau aku seneng, dia slalu ada buat jadi tempat berbagi kesenangan. 
"Braakkkk!" suara itu kedengaran amat menyeramkan, dan setelah kusadari, ternyata aku terjatuh dari ayunan yang sedang kunaiki. Ya ampun, aku ngelamunin dia lagi... Apa yang terjadi sama aku? Masa aku baru aja ngelakuin hal bego kaya gitu? Hal yang mungkin ngebuat orang lain ngakak di atas penderitaanku.
"Awww.... Sakit banget kaki aku..." sebenarnya aku tau di taman ini ga ada orang lain selain aku, tapi kok aku ngerasa ada suara ketawa yang kejam? Hiiyyy, jangan-jangan.......
"Huaaaa", aku berteriak kencang saking kagetnya. Baru kali ini aku denger suara hantu, ternyata suaranya tuh kaya manusia banget yah. 
"Ya ampunnn, ini Kayla? Ahaha, aku ngga nyangka banget bisa ketemu kamu di sini, Kay", kata suara itu. Haaaaa..... Salah apa aku bisa ketemu hantu di sore hari yang indah ini, ternyata hantu itu serba tau yaaa, masa dia juga tau nama aku, terus ya iya dia seneng bisa ketemu manusia bernama Kayla ini di taman terus nakut-nakutin dia, sementara aku...?
'Tuhan tolongin aku Tuhan, bawa aku ke tempat yang aman, ke atas pohon boleh deh, asal aku ga usah ngeliat ni hantu gitu, ngga usah tatap muka sama diaaa.... Aku takut hantu....', doaku dalam hati. Tapi kayanya itu cuma jadi mimpi soalnya aku masih di bawah pohon, di deket ayunan kuning ini.... Suara langkah kaki itu semakin deket lagi...
"aaaaaaa, jangan bunuh aku, mas hantu, aku masih belom punya pacar, masih banyak dosa sama mama sama papa... Pleaseee dong mas hantu, biarin aku hiduppp", teriakku sejadi-jadinya.  "Hahahahaha Kaylaa-Kaylaa... Kamu tuh yaa ngga di dunia asli, ngga di chat, sama aja: PENAKUT! Hahaha, ini aku, Mike..." kata suara itu... 'Mike siapa' kataku dalam hati.... 'Mike??? Hah, cowo itu? yang sedari tadi aku pikirin? Cowo yang ngebuat aku jatuh memalukan dari ayunan? hahaha, ngga mungkin ah', kataku sembari membalikkan tubuhku ke arah suara itu berasal. Hwaaa, wajah itu membuat hatiku bergetar hebat.
Ternyata itu beneran Mike ya Tuhan!  Seketika lidahku tak bisa berkata-kata, 'kenapa lidahku kelu tiap kau panggil aku', gitu kalo kata sm*sh! aduh apa apan aku ini, di saat seperti ini aku masih bisa mikirin boyband asal Bandung favoritku itu... kembali lagi dong ke dunia nyata. "Hah, kamu beneran Mike?" kataku, memandang wajah dia yang berdiri di sebelahku sambil mengulurkan tangan, membantuku berdiri.
"Ya iyalah emang kamu mikir aku ini hantu yang tau nama kamu? Hahaha", kata Mike seolah dapat membaca pikiranku. "Hehehe, ya kirain sih", kataku, menyambut uluan tangannya.  Baru kali ini aku melihat wajah aslinya, ternyata lebih cakep dari fotonya, ngebuat hati aku cenat cenut.
Kami mengobrol banyak di taman sambil menikmati matahari yang dengan malu-malu ke tempat asalnya. Senja itu, aku benar-benar ngerasain apa yang namanya indahnya jatuh cinta. Setelah mengobrol begitu lamanya, kami berpamitan, oiyah sekarang aku tau, dia pindah ke blok sebelah rumah aku. Aku jadi tetanggaan sama dia, senangnya :D. Kami lalu pergi ke rumah Mike untuk Mike kenalkan sama keluarganya yang sering dia ceritakan di chat ym ke aku.   
Mike pindah dari Jakarta ke Bandung, katanya sih papanya tugas kerja di Bandung. Dia tinggal sama keluarganya, yang barusan dia kenalin ke aku, Oom Anwar, Tante Rosa, dan adik perempuannya yang cantik, Mary. Mike sekolah di sekolah yang beda sama aku. Hari-hari berikutnya kujalani dengan senyuman yang menghiasi wajaku, menganggap bahwa semua hal buruk di dunia ini takkan berarti apa-apa bagiku, asal aku bisa liat wajah dia, wajah Mike setiap hari...
Sekarang Mike sudah menjadi sahabatku yang selalu ada di sampingku tiap aku ada masalah, dia selalu ngehibur aku.Semuanya jadi indah, sampai pada suatu hari, dia cerita ke aku tentang seorang cewe yang udah ngebuat hati aku sedih. Mike suka sama cewe itu, dan akhirnya setelah 3 bulan PDKT atau pendekatan, mereka jadian. 
Aku ngga kuat kalo harus terus begini, aku harus ngomong sama Mike tentang perasaanku sebenarnya, sebelum aku dibuat gila sama perasaan cinta sama sahabat sendiri. Bahkan, sebelum kami sahabatan, cuma sebagai temen di dunia lain selain dunia nyata, yaitu dunia maya, yang ga pernah tatap muka sebelumnya, aku udah suka sama dia... Ya, kalo perasaan ini terus-menerus dipupuk kaya gini, apalagi dengan sikap baik bangetnya itu, sikap perhatian itu, aku ngga mungkin ngga cinta sama dia... Rasa cinta ini terus menerus tumbuh, semakin besar dan semakin besar. Kalau aku ngga ngomong, bukannya aku seneng, tapi malah tersiksa sama perasaan ini.  Sampai pada suatu sore yang cerah, saat kami sedang ngobrol di taman kompleks sambil menatap awan yang terus menerus bergerak, aku menceritakan semua tentang isi hatiku, apa yang aku rasakan sama dia, dari kapan perasaan itu muncul, dan berbagai macam kalimat lain yang gatau kenapa langsung meluncur dari lidahku. Aku juga heran kenapa dia ngga kaget sama apa yang aku katakan.
Dia tetap tersenyum manis sambil mendengarkan aku bicara tentang perasaan terlarang ini. Setelah selesai semua beban di hatiku ini. "Mike, kok kamu malah senyum-senyum sih? Emang sih ceritaku tuh novel banget, tapi harus kamu tau, ini tuh kejadian sebenernya!", kataku.
"Ngga kok, Kay, aku seneng kamu mau jujur sama aku, aku seneng kamu mau jadi the one yang mau tulus cinta sama aku... Ehm, sebenernya aku malu banget ngomong ini sebenernya. Aku juga suka sama kamu, Kay. Dari kita ketemu di chat ym, aku juga udah suka sama kamu, aku berusaha supaya jadi yang terbaik buat kamu. Tapi aku udah putus harapan, soalnya kamu tuh ngga ngasih respon ke aku", jelas Mike.
"Hah? Kalau kamu juga suka sama aku, kenapa kamu jadian sama Lila? Kenapa kamu malah ngebuat hati aku tambah sakit, Mike setelah aku tau kejadian yang sebenarnya." 
"Sebenernya, Lila yang aku ceritain ke kamu itu, dia adik aku, aku cuma mau tau, apa kamu cemburu sama Lila atau ngga. Ternyata kamu cemburu yah, hehehe", canda Mike, tapi aku kira ini janggal dan ngga lucu! "Mike, bukannya adik kamu namanya Mary? Kok kamu ganti jadi Lila sih?", tanyaku penasaran.
"Yah, namanya kan Delila Mary Wijaya, nama belakangnya sama kaya aku: Michael Stefan Wijaya. Hehehe, maaf banget kalau aku udah bohongin kamu, Kayla."
Mike membuat aku yang tadinya kesal bercampur senang merasa sedikit tenang. 
"Jadi?" kata Mike. "Jadi, apa aku boleh jadi cowo yang bisa ngelindungin kamu, Kay?", sederhana, tapi udah buat aku melambung tinggi, bagai terbang di atas awan.
"Aku mau, Mike jadi cewe yang bisa ngertiin kamu", jawabku sambil tersenyum. Kami baru saja jadian dan aku sangat senang akan hal itu. Menikmati senja di dekat ayunan tempatku pertama bertemu dengan Mike, dengan suasana yang sama: langit senja berwarna merah keunguan membuat hatiku tentram. Ternyata, sahabat juga bisa jadi cinta.

http://www.lokerseni.web.id/2011/11/cerpen-remaja-aku-cinta-sahabatku.html