Tampilkan postingan dengan label belajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label belajar. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Desember 2011

Jenis-jenis Majas


Majas perbandingan
  1. Alegori: Menyatakan dengan cara lain, melalui kiasan atau penggambaran.
Contoh:Perjalanan hidup manusia seperti sungai yang mengalir menyusuri tebing-tebing, yang kadang-kadang sulit ditebak kedalamannya, yang rela menerima segala sampah, dan yang pada akhirnya berhenti ketika bertemu dengan laut.
  1. Alusio: Pemakaian ungkapan yang tidak diselesaikan karena sudah dikenal.
Contoh: Sudah dua hari ia tidak terlihat batang hidungnya.
  1. Simile: Pengungkapan dengan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan kata depan dan penghubung, seperti layaknya, bagaikan, " umpama", "ibarat","bak", bagai". contoh: Kau umpama air aku bagai minyaknya, bagaikan Qais dan Laila yang dimabuk cinta berkorban apa saja.
  2. Metafora: Pengungkapan berupa perbandingan analogis dengan menghilangkan kata seperti layaknya, bagaikan, dll. contoh: Waspadalah terhadap lintah darat
  3. Antropomorfisme: Metafora yang menggunakan kata atau bentuk lain yang berhubungan dengan manusia untuk hal yang bukan manusia.
  4. Sinestesia: Majas yang berupa suatu ungkapan rasa dari suatu indra yang dicurahkan lewat ungkapan rasa indra lainnya.
  5. Antonomasia: Penggunaan sifat sebagai nama diri atau nama diri lain sebagai nama jenis.
  6. Aptronim: Pemberian nama yang cocok dengan sifat atau pekerjaan orang.
  7. Metonimia: Pengungkapan berupa penggunaan nama untuk benda lain yang menjadi merek, ciri khas, atau atribut.
  8. Hipokorisme: Penggunaan nama timangan atau kata yang dipakai untuk menunjukkan hubungan karib.
  9. Litotes: Ungkapan berupa penurunan kualitas suatu fakta dengan tujuan merendahkan diri.
  10. Hiperbola: Pengungkapan yang melebih-lebihkan kenyataan sehingga kenyataan tersebut menjadi tidak masuk akal.
  11. Personifikasi: Pengungkapan dengan menggunakan perilaku manusia yang diberikan kepada sesuatu yang bukan manusia.
  12. Depersonifikasi: Pengungkapan dengan tidak menjadikan benda-benda mati atau tidak bernyawa.
  13. Pars pro toto: Pengungkapan sebagian dari objek untuk menunjukkan keseluruhan objek.
  14. Totum pro parte: Pengungkapan keseluruhan objek padahal yang dimaksud hanya sebagian.
  15. Eufimisme: Pengungkapan kata-kata yang dipandang tabu atau dirasa kasar dengan kata-kata lain yang lebih pantas atau dianggap halus.
  16. Disfemisme: Pengungkapan pernyataan tabu atau yang dirasa kurang pantas sebagaimana adanya.
  17. Fabel: Menyatakan perilaku binatang sebagai manusia yang dapat berpikir dan bertutur kata.
  18. Parabel: Ungkapan pelajaran atau nilai tetapi dikiaskan atau disamarkan dalam cerita.
  19. Perifrase: Ungkapan yang panjang sebagai pengganti ungkapan yang lebih pendek.
  20. Eponim: Menjadikan nama orang sebagai tempat atau pranata.
  21. Simbolik: Melukiskan sesuatu dengan menggunakan simbol atau lambang untuk menyatakan maksud.
  22. Asosiasi: perbandingan terhadap dua hal yang berbeda, namun dinyatakan sama.
Majas sindiran
  1. Ironi: Sindiran dengan menyembunyikan fakta yang sebenarnya dan mengatakan kebalikan dari fakta tersebut.
  2. Sarkasme: Sindiran langsung dan kasar.
  3. Sinisme: Ungkapan yang bersifat mencemooh pikiran atau ide bahwa kebaikan terdapat pada manusia (lebih kasar dari ironi).
  4. Satire: Ungkapan yang menggunakan sarkasme, ironi, atau parodi, untuk mengecam atau menertawakan gagasan, kebiasaan, dll.
  5. Innuendo: Sindiran yang bersifat mengecilkan fakta sesungguhnya.
Majas penegasan
  1. Apofasis: Penegasan dengan cara seolah-olah menyangkal yang ditegaskan.
  2. Pleonasme: Menambahkan keterangan pada pernyataan yang sudah jelas atau menambahkan keterangan yang sebenarnya tidak diperlukan.
  3. Repetisi: Perulangan kata, frase, dan klausa yang sama dalam suatu kalimat.
  4. Pararima: Pengulangan konsonan awal dan akhir dalam kata atau bagian kata yang berlainan.
  5. Aliterasi: Repetisi konsonan pada awal kata secara berurutan.
  6. Paralelisme: Pengungkapan dengan menggunakan kata, frase, atau klausa yang sejajar.
  7. Tautologi: Pengulangan kata dengan menggunakan sinonimnya.
  8. Sigmatisme: Pengulangan bunyi "s" untuk efek tertentu.
  9. Antanaklasis: Menggunakan perulangan kata yang sama, tetapi dengan makna yang berlainan.
  10. Klimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang sederhana/kurang penting meningkat kepada hal yang kompleks/lebih penting.
  11. Antiklimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang kompleks/lebih penting menurun kepada hal yang sederhana/kurang penting.
  12. Inversi: Menyebutkan terlebih dahulu predikat dalam suatu kalimat sebelum subjeknya.
  13. Retoris: Ungkapan pertanyaan yang jawabannya telah terkandung di dalam pertanyaan tersebut.
  14. Elipsis: Penghilangan satu atau beberapa unsur kalimat, yang dalam susunan normal unsur tersebut seharusnya ada.
  15. Koreksio: Ungkapan dengan menyebutkan hal-hal yang dianggap keliru atau kurang tepat, kemudian disebutkan maksud yang sesungguhnya.
  16. Polisindenton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana, dihubungkan dengan kata penghubung.
  17. Asindeton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana tanpa kata penghubung.
  18. Interupsi: Ungkapan berupa penyisipan keterangan tambahan di antara unsur-unsur kalimat.
  19. Ekskalamasio: Ungkapan dengan menggunakan kata-kata seru.
  20. Enumerasio: Ungkapan penegasan berupa penguraian bagian demi bagian suatu keseluruhan.
  21. Preterito: Ungkapan penegasan dengan cara menyembunyikan maksud yang sebenarnya.
  22. Alonim: Penggunaan varian dari nama untuk menegaskan.
  23. Kolokasi: Asosiasi tetap antara suatu kata dengan kata lain yang berdampingan dalam kalimat.
  24. Silepsis: Penggunaan satu kata yang mempunyai lebih dari satu makna dan yang berfungsi dalam lebih dari satu konstruksi sintaksis.
  25. Zeugma: Silepsi dengan menggunakan kata yang tidak logis dan tidak gramatis untuk konstruksi sintaksis yang kedua, sehingga menjadi kalimat yang rancu.
Majas pertentangan
  1. Paradoks: Pengungkapan dengan menyatakan dua hal yang seolah-olah bertentangan, namun sebenarnya keduanya benar.
  2. Oksimoron: Paradoks dalam satu frase.
  3. Antitesis: Pengungkapan dengan menggunakan kata-kata yang berlawanan arti satu dengan yang lainnya.
  4. Kontradiksi interminus: Pernyataan yang bersifat menyangkal yang telah disebutkan pada bagian sebelumnya.
  5. Anakronisme: Ungkapan yang mengandung ketidaksesuaian dengan antara peristiwa dengan waktunya.

Selasa, 29 November 2011

Reporter dan Reportase


Memutuskan untuk menjadi seorang jurnalis, mungkin bukan perkara mudah. Setidaknya ada beberapa hal yang langsung terbayang, seperti harus on time, super sibuk, dan dikejar deadline. Hari-hari selalu sibuk mengais kolong langit demi sebaris berita, belum lagi jika redaksi menuntut tulisan unik, berbobot, up to date, dan tidak cepat basi. Wah gimana dong???
Teman-teman jangan bingung, juga jangan nyerah. Meskipun harus diakui, jurnalistik kampus adalah miniatur jurnalistik lapangan, tapi jika disiasati dan dipahami aturan mainnya, maka profesi ini tidak begitu mengganggu kuliah kamu. Melibatkan diri dalam jurnalis kampus adalah sarana belajar, menggali ilmu dan pengalaman, dan yang lebih penting, tentu tak semua orang bisa mendapatkan kesempatan seperti itu.
Nah, diedisi ini kita akan membahas gimana sih caranya jadi reporter yang baik, diterima nara sumber dan menghasilkan reportase yang memuaskan.
Menjadi reporter berita peristiwa/kejadian/event mungkin sedikit lebih mudah jika dibandingkan menjadi reporter berita reportase diluar berita event. Misalnya ada mahasiswa baru yang menang debat melawan ketua BEM di arena OSPEK, itu adalah contoh berita peristiwa/event. Mudah meramunya, dapat dengan atau tanpa wawancara. Meskipun demikian, berita reportase yang baik, tetap perlu dilengkapi dengan pendapat dari pelaku event tersebut.
Berita yang harus diliput tanpa peristiwa, misalnya 'penurunan tingkat kelulusan mahasiswa pada mata kuliah tertentu'. Maksud kalimat 'tanpa peristiwa' di sini adalah tidak ada kejadian yang langsung dapat dilihat. Sumber-sumber berita hanya dapat diperoleh dari data-data, fakta, dan hasil wawancara. Disini mutlak diperlukan nara sumber, untuk mendapatkan akurasi berita.
Menurut Suriani (koresponden harian Sinar Harapan), dalam makalahnya 'Teknik mencari dan menulis berita', ada beberapa bekal yang harus dimiliki oleh seorang reporter, untuk melakukan wawancara kepada nara sumber.
Pertama, nuansa pribadi: pewawancara perlu memiliki keterampilan, kecakapan dalam menghadirkan pertanyaan yang mengena, tandas, lugas, dan mampu menimbulkan jawaban yang multi aspek. Karena itu pewawancara harus memiliki pengetahuan, wawasan, pengalaman, idealisme, serta tanggung jawab profesi.
Kedua, nuansa produktivitas; pewawancara dituntut mampu menghasilkan wawancara yang tidak hanya bersifat "hangat-hangat tahi ayam", namun harus mampu menghadirkan hasil liputan wawancara yang berkelanjutan, sesuai dengan kemauan dan keinginan pembaca.
Ketiga, nuansa kreativitas; pewawancara harus mengembangkan imajinasi dan wawasannya, sehingga senantiasa dapat melahirkan ide-ide baru sebagai modal untuk wawancara.
Itulah ketiga bekal awal yang harus dimiliki seorang reporter, cukup memacu adrenalin bukan? Andai aku jadi kamu, aku akan mencobanya, bukankah dunia muda dipenuhi dengan tantangan-tantangan yang membutuhkan ketelatenan untuk menaklukkannya?
Ada beberapa tips ringan untuk memulai wawancara,
1. Bangunlah rasa percaya diri kamu, 'aku ini reporter' atau 'insyaAllah aku bisa'
2. Ketika bertemu nara sumber sebutlah identitas kamu, dari harian/majalah apa
3. Tanpa mengurangi rasa hormat kamu pada nara sumber, lepaskan status bahwa dia adalah dekan, dosen, ataupun ketua BEM, siapapun orangnya dia adalah nara sumber. Yakinkan hatimu, bahwa mereka adalah orang-orang baik hati, yang bersedia berbagi informasi.
4. Jadilah reporter yang bersahabat, minimal lemparkan seulas senyum, jabat tangannya jika dia berjenis kelamin sama dengan kamu (jangan sampai uluran tangan kamu ditolak ketika hendak menjabat tangan nara sumber, itu akan menambah rasa grogi kamu, dan kamu bisa dianggap tidak sopan). Inilah perlunya mengenali nara sumber sebelum melakukan wawancara, terlebih jika nara sumber tersebut adalah dosen kamu.
5. Jangan bersikap kaku, meski kamu reporter baru. Tanyakan saja, poin-poin pertanyaan yang telah ditugaskan redaktur dan kembangkan imajinasi kamu sesuai jawaban yang diberikan nara sumber. Jika nara sumber berkeberatan menjawab beberapa poin dari pertanyaan kamu, tidak perlu dipaksa. Termasuk jika mereka meminta kamu tidak meng-ekspose hal-hal tertentu yang sengaja mereka jauhkan dari jangkauan publik. Ingat, tujuan awal kamu jadi reporter, bukan jadi tukang gosip, tapi agen pembaharu.
Baiklah sampai disini dulu, selamat mencoba, karena tanpa latihan, teori-teori ini tidak akan banyak berguna. Untuk lebih memotivasi kamu, tak ada salahnya kita meminjam cara belajarnya orang matematika. Aku dengar aku lupa, aku lihat aku kerjakan, aku kerjakan aku mengerti. Selamat meliput, semoga berhasil. Jayalah terus jurnalistik Indonesia.

KLASIFIKASI, JENIS, DAN NILAI BERITA


Berita adalah laporan tercepat mengenai fakta atau ide terbaru yang benar, menarik dan atau penting bagi sebagian besar khalayak, melalui media berkala seperti surat kabar, radio, televisi, atau media on-line internet.
Klasifikasi Berita
Berita dapat diklasifikasikan ke dalam dua kategori: berita berat (hard news) dan berita ringan (soft news).
Jenis-Jenis Berita
1. Straight news report
Adalah laporan langsung mengenai suatu peristiwa.
2. Depth news report
3. Comprehensive news
Merupakan laporan tentang fakta yang bersifat menyeluruh ditinjau dari berbagai aspek.
4. Interpretative report
Penulis mencari fakta
5. Feature story
6. Depth reporting
Adalah pelaporan jurnalistik yang bersifat mendalam, tajam, lengkap dan utuh tentang suatu peristiwa fenomenal atau aktual.
7. Investigative reporting
8. Editorial writting
Adalah pikiran sebuah institusi yang diuji di depan sidang pendapat umum.
Kriteria Umum Nilai Berita
News value merupakan acuan yang yang dapat digunakan oleh para jurnalis untuk memutuskan fakta yang pantas dijadikan berita dan memilih mana yang lebih baik.
MENCARI, MELIPUT, DAN MENULIS BERITA
Mengenali Sumber Berita
Sumber berita harus layak dipercaya dan menyebutkan nama sumber tersebut. Sumber-sumber yang tidak disebutkan identitasnya merupakan isu yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.
Teknik Wawancara Berita
Wawancara berita (news interview) adalah kegiatan tanya-jawab yang dilakukan reporter atau wartawan dengan nara sumber untuk memperoleh informasi menarik dan penting yang diinginkan.
Persyaratan Wawancara Berita
Menurut Jonathan harus memenuhi delapan persyaratan, yaitu:
1. Mempunyai tujuan yang jelas
2. Efisien
3. Menyenangkan
4. Mengandalkan persiapan dan riset awal
5. Melibatkan kepentingan khalayak
6. Menimbulkan spontanitas
7. Pewawancara berfungsi sebagai pengendali
8. Mampu mengembangkan logika
Jenis-jenis Wawancara Berita
Menurut Floyd G. Arpan dalam Toward Better Communications, berdasarkan bentuknya, wawancara dapat dikelompokkan ke dalam tujuh jenis, yaitu:
1. Wawancara sosok pribadi (personal interview)
2. Wawancara berita (news interview)
3. Wawancara jalanan (man in the street interview)
4. Wawancara sambil lalu (casual interview)
5. Wawancara telepon (telephone interview)
6. Wawancara tertulis (written interview)
7. Wawancara kelompok (discussion interview)
Teknik Menulis Berita
Secara universal, berita ditulis dengan teknik melaporkan (to report), merujuk pada pola piramida terbalik (inverted pyramid), dan mengacu kepada rumus 5W1H.
Syarat Judul Berita
Judul yang baik harus memenuhi delapan syarat:
1. Provokatif
2. Singkat-padat
3. Relevan
4. Fungsional
5. Formal
6. Representatif
7. Menggunakan bahasa baku
8. Spesifik
Fungsi Teras Berita
Teras berita memiliki empat fungsi:
- Atraktif
- Introduktif
- Korelatif
- Kredibilitas

REPORTASE


Pengertian Reportase
Reportase adalah kegiatan meliput, mengumpulkan fakta-fakta tentang berbagai unsur berita, dari berbagai sumber/narasumber dan kemudian menuliskannya dalam bentuk berita (produk).
Jenis Reportase :
  1.  yaitu: reportase dasar -  ( straig news)
  2.  reportase madia (menengah) - soft news/ feature
  3. Reportase lanjutan – news analisia
Berita adalah informasi hangat dan aktual yang disajikan kepada umum mengenai apa yang sedang terjadi, tentang apa yang harus dipikirkan dan bagaimana bertindak. Ini berarti, berita adalah laporan kejadian yang tepat pada waktunya, ringkas, cermat, dan kejadian nyata itu sendiri.
Proses Pembuatan Berita.
1. Mencari informasi awal.
Informasi awal dapat diperoleh dari berbagai sumber. Media massa (koran harian, internet, radio, televisi) adalah salah satu sumber informasi yang terus mengalir tak pernah henti. Bisa pula dari berbagai sumber personal, seperti pimpinan lembaga, atau kolega (kenalan) yang bekerja untuk suatu perusahaan dan memiliki cukup informasi tentang perusahaan/lembaga tersebut.
Contoh kejadian: rapat anggaran DPRD, wisuda perguruan tinggi swasta, peresmian cabang baru bank syari’ah, lomba ilmiah remaja, seminar kebebasan pers/berekspresi, peringatan hari bumi, dsb.
2. Memastikan peristiwa yang akan diliput.
Melakukan konfirmasi berarti mengecek kepastian; baik kepastian jadi atau tidaknya acara, kepastian partisipan/peserta, penyelenggara, pihak/pejabat yang akan membuka acara, rangkaian berserta waktu/ lamanya acara, aturan atau tata tertib peliputan (jika ada). Dengan demikian, reporter dapat mempersiapkan segala sesuatu; baik fisik, mental, peralatan, maupun tim peliput.

3. Mendokumentasikan seluruh informasi.
Informasi yang didapatkan setelah peliputan perlu dikumpulkan, disatukan, ‘ditabung’ sehingga siap untuk diolah lebih lanjut menjadi berita. Informasi dapat berupa: keterangan tentang 5W+1H, foto-foto dokumentasi, press release, profil lembaga, pidato, pernyataan tertulis, komentar (wawancara) dua-tiga narasumber, dan kesaksian saksi mata.
Menulis Berita
1. Menetapkan sudut pandang (angle) pemberitaan sesuai (jenis) beritanya.
Reporter menetapkan jenis berita yang akan dibuat (straight, soft/ feature, analysis), kemudian menetapkan sudut pandang (angle) yang menarik. Ukuran menarik ini tentu saja dengan mengingat sebagian besar khalayak yang akan menikmati berita kita.
Angle pada dasarnya adalah penonjolan informasi, sekaligus pintu masuk (entry point) ke dalam berita. Rapat Anggaran DPRD dapat mengambil angle : alokasi anggaran pendidikan sebesar 20%, ‘Harga’ Draft RUU Keistimewaan Yogya 500 juta Realistis/Tidak?, Kenaikan Gaji DPRD melebihi gaji PNS.

2. Menulis seluruh (isi) berita

Dengan angle yang ditetapkan kemudian modal dasar dalam menulis berita adalah seluruh rangkaian informasi yang telah didapatkan, yaitu 5W+1H. Karena sudut pandangnya adalah anggaran pendidikan 20%, maka yang didulukan adalah fakta yang terungkap dalam rapat tentang anggaran tersebut, beserta seluruh argumentasi yang menyertainya. Begitu pula beberapa komentar pelaku (peserta rapat) maupun pakar/ pengamat pendidikan yang sengaja dihubungi untuk dimintai pendapatnya.

3. Mengedit berita, isi maupun bahasa

Jika berita telah jadi, sentuhan terakhir adalah editing, baik isi maupun bahasanya. Editing isi berarti membaca, mengoreksi adakah isi yang kurang, tidak relevan, kurang sesuai, belum menonjol, dan kurang menyeluruh. Dari sisi bahasanya, adakah kalimat yang belum mengalir, sudah sesuaikah antara judul dan lead dan isi seluruh tubuhnya, sudah menggunakan bahasa dan ejaan baku atau belum, dan adakah salah-ketik yang mengganggu pembacaan berita.
Jurnalis yang baik
Reporter Vitalitas
Vitalitas adalah syarat utama wartawan tangguh, yaitu mengerjakan yang biasa-biasa saja dengan cara yang luar biasa. Menjadi reporter bukan pertama-tama karena kecantikan dan kegagahan, bukan keluwesan bergaul, bukanlah rasa ingin tahu, bukan juga pengetahuan luas dan dalam, melainkan ketekunan, kegigihan dan vitalitas. Rangkaian yang menyertai vitalitas itu adalah: menemukan peristiwa dan jalan cerita, cek-ricek-tripel cek jalan cerita, memastikan sudut berita, menentukan lead atau intro, menulis berita.

Alat Kelengkapan Reportase

Reporter dapat disebut profesi multi: peneliti, penulis cerita, editor. Peneliti karena dia harus mengumpulkan berbagai ragam informasi (observasi, wawancara, riset dokumentasi) di lapangan maupun di balik meja agar memiliki informasi yang cukup dan sekaligus valid untuk menulis berita (cerita). Perlengkapan yang diperlukan adalah setumpuk pertanyaan (yang ingin digali atau diketahui) jika mungkin diketik rapi, alat pencatat berupa bloknot dan pena yang mudah dibawa, alat rekam tape recorder kecil, dan kadang ditambah kamera foto. Jika telah memiliki kartu identitas (ID Card) reporter atau wartawan, sebaiknya dibawa untuk identitas dan keamanan.

Memiliki Persyaratan Khusus

Menjadi seorang reporter televisi harus memiliki persyaratan khusus yakni kepekaan sosial. Artinya sebelum meliput suatu peristiwa, atau kejadian di lokasi tempat kejadian ia sudah harus punya asumsi bahwa peristiwa atau kejadian itu punya arti besar bagi masyarakat luas. Apapun peristiwa atau kejadian tersebut.

Karena itu seorang reporter harus mampu mengkaji terlebih dahulu kejadian itu. Misalnya ia ditugaskan untuk meliput demo mahasiswa di Bundaran HI Jakarta Pusat. Ketika pertama kali mendengar penugasan maka pada saat itu pula ia harus berpikir : Apa yang didemo oleh para mahasiswa (=korupsi yang tak pernah tuntas, Pilkada yang curang, kelaparan, susah mendapatkan pekerjaan, susah mendapatkan bensin, dsb), untuk apa mereka demo (=tekanan pada pemerintah agar koruptor dihukum gantung), dengan cara apa mereka berdemo (membawa spanduk, menyetop lalu lintas jalan, membawa patung, membakar ban mobil bekas, melemparkan tekor busuk dsb), berapa banyak mahasiswa yang ikut demo (ratusan ribu, atau hanya 5 orang ), mahasiswa mana saja yang turun ke jalan (perguruan tinggi mana saja, organisasi intra atau ekstra universiter), apakah demo itu efektif atau hanya buang-buang waktu saja. Pertanyaan-pertanyaan ini diperlukan untuk memicu diri reporter tersebut untuk mengambil inisiatif dari mana dia harus memulainya atau merekamnya (dalam back mind) peristiwa tersebut, kemudia ia harus bertanggungjawab agar even tersebut jangan sampai berlalu begitu saja. Artinya reporter harus selalu siap mengambil inisiatif untuk “action” meliput kejadian tersebut.

Apabila seorang calon reporter / wartawan mendapat tugas meliput sebuah acara perkawinan orang terkenal , katakanlah misalnya perkawinan artis /penyanyi Siti Nurhaliza dengan seorang duda beranak empat bernama Datuk K, di Malaysia, tetapi calon reporter itu kembali dengan tangan hampa tanpa membawa berita hanya karena pengantin lelaki tidak muncul dalam jumpa pers, atau karena mantan istri Datuk K tidak hadir dalam akad nikah, maka calon reporter itu tidak layak menjadi seorang reporter.

Setibanya di kantor , ketika Redaktur yang memberi tugas menanyakan “Mana beritanya ?” . Sang calon menjawab “ Maaf Pak, tidak ada sesuatu yang dapat dijadikan berita, karena pengantin lelakinya tidak muncul dalam jumpa pers dan mantan istri Datuk ke Austarlia” Maka sebenarnya, kejadian pengantin lelaki tidak muncul dan mantan istri ke Australia adalah justru suatu berita yang layak menjadi berita.

Menjadi seorang reporter harus mampu mengkaji mana berita besar, berita biasa dan berita ringan. Dan harus ditanamkan pada diri seorang reporter harus kembali ke redaksi dengan membawa berita besar. Atau paling tidak, dapat berita biasa, atau berita ringanpun jadi, asal jagan pulang degan tangan hampa.

Membuat Berita atau Menggagas Berita

Ada dua kategori kegiatan reportase atau peliputan ; membuat suatu berita atau menggagas suatu berita. Dengan kata lain, seorang reporter harus tahu terlebih dahulu apakah keberangkatannya dari kantor hanya untuk membuat berita atau berinisiatif menciptakan atau menggagas suatu berita. Yang dimaksud hanya untuk membuat berita adalah melakukan reportase di lapangan tentang hal-hal yang sudah ditentukan terlebih dahulu sebagai penugasan dari redaktur. Misalnya menghadiri jumpa pers, atau liputan yang sudah direncanakan berdasarkan tematis. Maka beritanyapun hanya seputar jumpa pers.

Sementara liputan inisiatif atau menggagas suatu berita adalah suatu liputan yang tidak terduga atau yang tidak direncanakan sama sekali. Gagasan itu muncul dengan sendirinya ketika menyaksikan atau mendengar kabar telah terjadi dengan tiba-tiba peristiwa tragis, misalnya kecelakaan yang menewaskan seorang ibu yang sedang hamil tua. Atau seorang menteri yang “ngebut” naik motor sendiri guna menghindari kemacetan lalu lintas karena ditunggu rapat kabinet. Menghadapi peristiwa-peristiwa tersebut reporter harus siap mendekat pada tempat kejadian dan mencari tahu siapa ibu hamil yang tertimpa musibah itu. Bagaimana kejadian itu bermula sehingga ibu itu tewas dalam keadaan hamil tua. Dan mempertanyakan siapa menteri yang “ngebut” naik motor itu. Bagaimana komentar orang-orang yang melihatnya, dst.

Reporter televisi tidak seorang diri (one man show) tetapi selalu berdua dengan seorang kamerawan/wati. Kedua orang inilah yang disebut tim reporter, mencerminkan televisi itu media audio visual (narasi dan gambar). Keduanya harus saling mengisi dan selalu bertukar pikiran dalam membuat sebuah liputan agar hasilnya maksimal dan menarik.

Apa yang akan ditulis oleh reporter dan gambar apa yang paling pas untuk menunjang tulisan tersebut. Perpaduan antara narasi dan gambar yang dibuat oleh reporter dan kameramen itulah yang akan ditonton oleh pemirsa. Penonton tidak mau tahu apakah hasil liputan itu dikerjakan oleh seorang atau oleh dua orang, penonton hanya ingin menonton sebuah berita.

Perbedaan antara wartawan media cetak dan tim reporter media televisi tercermin dari teknis reportasenya. Wartawan media cetak cukup dengan hanya selembar press release. Tetapi tidak bagi tim reporter televisi. Tim reporter televisi tidak bisa hanya “mengandalkan” membuat liputan dari press release. Press release hanya dapat dijadikan sebagai informasi awal untuk kemudian dikembangkan di lapangan dengan diback up gambar-gambar yang juga ikut bicara.

Bagaimana cara untuk memadukan kebiasaan membuat berita dengan usaha menggagas berita ?. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh para reporter televisi dalam usahanya mengalihkan kebiasaan membuat berita yang ada menjadi menggagas berita baru.


  1.  
Ambil beberapa nara sumber kemudian meramunya menjadi sebuah berita baru.

  1.  
Ambil beberapa referensi berita yang ada untuk kemudian membuat berita baru dengan sudut pandang (angel) yang berbeda.

  1.  
Ambil referensi lain yang sesuai untuk menciptakan sebuah berita baru yang jauh lebih bernuansa.

Sebagai konsekuensi logis dari sebuah pekerjaan profesionalisme maka setiap reporter televisi dituntut harus kaya dengan ide-ide segar dan bermakna untuk dapat diaplikasikan menjadi sebuah berita televisi. Karena itu setiap reporter televisi dalam menjalankan tugasnya di lapangan haruslah seorang yang “jeli” melihat setiap celah kejadian dalam masyarakat, dengan begitu reporter televisi tidak hanya menunggu perintah atasannya atau hanya menunggu undangan dari instansi lain atau hanya jadi reporter press release. Namun demikian melakukan koordinasi dengan atasan harus tetap menjadi suatu keharusan. Prinsipnya setiap tim reporter keluar “kandang” tidak ada kata pulang dengan tangan hampa dan kamera tanpa gambar.

Menulis berita di TV:
Berita di media televisi dapat disampaikan dalam berbagai format. Untuk menentukan format mana yang akan dipilih, tergantung pada beberapa faktor antara lain: Ketersediaan gambar dan momen terjadinya peristiwa atau perkembangan peristiwa yang akan diberitakan.