Tampilkan postingan dengan label jurnalistik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jurnalistik. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Desember 2011

study banding SMKN 1 MAS UBUD


di tamskobersama wakasek
Study banding adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan tujuan menambah pengetahuan dan menambah wawasan yang akan diterapkan kedepannya untuk menjadi lebih baik. Kegiatan seperti ini tentunya sangat bagus bagi perkembangan suatu kebutuhan yang diharapkan sebagaimana mestinya.
Namun ada sedikit catatan kecil mengenai study banding yaitu ksannya suatu kegiatan yang menghabiskan uang, melelakan, membosankan. Padahal hal tersebut merupakan pemikiran yang salah, karena study banding adalah kegiatan yang menyenangkan, positif, dan memotifasi para pesertanya untuk menjadi lebih baik lagi kedepannya.
Seperti hari ini, 24 Desember 2011 kedatangan tamu dari SMK Negeri 1 MAS UBUD – Bali dalam rangka study banding untuk mengembangkan rasa bersaing yang tinggi dan memotifasi siswanya agar lebih berfikir maju dan memotifasi siswanya agar lebih berfikir maju dan selalu ingin menambah wawasan agar tidak tertinggal dengan sekolah pesaing lainnya.
“Alasan sekolah ini melakukan study bandng di SMKN 4 Malang diantaranya karena SMKN 4 Malang adalah sekolah grafika tertua yang bertaraf internasional dan terbukti memiliki kualitas di dunia pendidikan”, ujar Wirahadi selaku kepala sekolah SMK Negeri 1 MAS UBUD – Bali.
Kegiatan ini sudah berlangsung selama 2 tahun di SMK N 1 MAS UBUD. Pada tahun ini SMKN 4 Malang  merupakan sekolah pertama yang menjadi tujuan study banding di luar pulau Bali. Kegiatan seperti ini dilaksakanan untuk memberikan pengetahuan dasar sebelum melakukan PSG (Pendidikan Sistem Ganda) di suatu industry.
Jumlah peserta yang dating dan mengikuti kegiatan ini adalah 165 siswa yang merupakan seluruh siswa kelas 10 , kepala sekolah, dan beberapa guru pembimbing. Mereka sangat menikmati kunjungan ini. Ucapan selamat dating oleh perwakilan dari SMKN 4 Malang di auditorium merupan kegiatan awal dan selanjutnya mereka mengelilingi GRAFIKA dengan penuh semangat, penasaran, dan senang. Ruangan kelas, lab MULTIMEDIA, bengkel TKJ, ruang desain, ruang repro, ruang sablon, uks, dan semua ruangan tak luput dari perjalanan mereka.
Edi Sugeng, wakasek SMKN 4 Malang sangat senang dan bangga atas kunjungan study banding ini, karena hal tersebut menunjukkan bahwa GRAFIKA mampu menunjukkan eksistensinya didunia pendidikan, khususnya dunia pendidikan Indonesia.
Miatan dan Yusti, keduanya berdecak kagum dengan SMKN 4 Malang yang memiliki banyak kelebihan antara lain, para warganya yang sopan dan ramah, suasana sekolah yang nyaman, fasilitas sekolah yang maksimal dll.
Semoga ilmu dan pengalaman yang didapat dapat berguna dan bermanfaat bagi peserta study banding SMK Negeri 1 MAS UBUD – Bali.


Selasa, 29 November 2011

Reporter dan Reportase


Memutuskan untuk menjadi seorang jurnalis, mungkin bukan perkara mudah. Setidaknya ada beberapa hal yang langsung terbayang, seperti harus on time, super sibuk, dan dikejar deadline. Hari-hari selalu sibuk mengais kolong langit demi sebaris berita, belum lagi jika redaksi menuntut tulisan unik, berbobot, up to date, dan tidak cepat basi. Wah gimana dong???
Teman-teman jangan bingung, juga jangan nyerah. Meskipun harus diakui, jurnalistik kampus adalah miniatur jurnalistik lapangan, tapi jika disiasati dan dipahami aturan mainnya, maka profesi ini tidak begitu mengganggu kuliah kamu. Melibatkan diri dalam jurnalis kampus adalah sarana belajar, menggali ilmu dan pengalaman, dan yang lebih penting, tentu tak semua orang bisa mendapatkan kesempatan seperti itu.
Nah, diedisi ini kita akan membahas gimana sih caranya jadi reporter yang baik, diterima nara sumber dan menghasilkan reportase yang memuaskan.
Menjadi reporter berita peristiwa/kejadian/event mungkin sedikit lebih mudah jika dibandingkan menjadi reporter berita reportase diluar berita event. Misalnya ada mahasiswa baru yang menang debat melawan ketua BEM di arena OSPEK, itu adalah contoh berita peristiwa/event. Mudah meramunya, dapat dengan atau tanpa wawancara. Meskipun demikian, berita reportase yang baik, tetap perlu dilengkapi dengan pendapat dari pelaku event tersebut.
Berita yang harus diliput tanpa peristiwa, misalnya 'penurunan tingkat kelulusan mahasiswa pada mata kuliah tertentu'. Maksud kalimat 'tanpa peristiwa' di sini adalah tidak ada kejadian yang langsung dapat dilihat. Sumber-sumber berita hanya dapat diperoleh dari data-data, fakta, dan hasil wawancara. Disini mutlak diperlukan nara sumber, untuk mendapatkan akurasi berita.
Menurut Suriani (koresponden harian Sinar Harapan), dalam makalahnya 'Teknik mencari dan menulis berita', ada beberapa bekal yang harus dimiliki oleh seorang reporter, untuk melakukan wawancara kepada nara sumber.
Pertama, nuansa pribadi: pewawancara perlu memiliki keterampilan, kecakapan dalam menghadirkan pertanyaan yang mengena, tandas, lugas, dan mampu menimbulkan jawaban yang multi aspek. Karena itu pewawancara harus memiliki pengetahuan, wawasan, pengalaman, idealisme, serta tanggung jawab profesi.
Kedua, nuansa produktivitas; pewawancara dituntut mampu menghasilkan wawancara yang tidak hanya bersifat "hangat-hangat tahi ayam", namun harus mampu menghadirkan hasil liputan wawancara yang berkelanjutan, sesuai dengan kemauan dan keinginan pembaca.
Ketiga, nuansa kreativitas; pewawancara harus mengembangkan imajinasi dan wawasannya, sehingga senantiasa dapat melahirkan ide-ide baru sebagai modal untuk wawancara.
Itulah ketiga bekal awal yang harus dimiliki seorang reporter, cukup memacu adrenalin bukan? Andai aku jadi kamu, aku akan mencobanya, bukankah dunia muda dipenuhi dengan tantangan-tantangan yang membutuhkan ketelatenan untuk menaklukkannya?
Ada beberapa tips ringan untuk memulai wawancara,
1. Bangunlah rasa percaya diri kamu, 'aku ini reporter' atau 'insyaAllah aku bisa'
2. Ketika bertemu nara sumber sebutlah identitas kamu, dari harian/majalah apa
3. Tanpa mengurangi rasa hormat kamu pada nara sumber, lepaskan status bahwa dia adalah dekan, dosen, ataupun ketua BEM, siapapun orangnya dia adalah nara sumber. Yakinkan hatimu, bahwa mereka adalah orang-orang baik hati, yang bersedia berbagi informasi.
4. Jadilah reporter yang bersahabat, minimal lemparkan seulas senyum, jabat tangannya jika dia berjenis kelamin sama dengan kamu (jangan sampai uluran tangan kamu ditolak ketika hendak menjabat tangan nara sumber, itu akan menambah rasa grogi kamu, dan kamu bisa dianggap tidak sopan). Inilah perlunya mengenali nara sumber sebelum melakukan wawancara, terlebih jika nara sumber tersebut adalah dosen kamu.
5. Jangan bersikap kaku, meski kamu reporter baru. Tanyakan saja, poin-poin pertanyaan yang telah ditugaskan redaktur dan kembangkan imajinasi kamu sesuai jawaban yang diberikan nara sumber. Jika nara sumber berkeberatan menjawab beberapa poin dari pertanyaan kamu, tidak perlu dipaksa. Termasuk jika mereka meminta kamu tidak meng-ekspose hal-hal tertentu yang sengaja mereka jauhkan dari jangkauan publik. Ingat, tujuan awal kamu jadi reporter, bukan jadi tukang gosip, tapi agen pembaharu.
Baiklah sampai disini dulu, selamat mencoba, karena tanpa latihan, teori-teori ini tidak akan banyak berguna. Untuk lebih memotivasi kamu, tak ada salahnya kita meminjam cara belajarnya orang matematika. Aku dengar aku lupa, aku lihat aku kerjakan, aku kerjakan aku mengerti. Selamat meliput, semoga berhasil. Jayalah terus jurnalistik Indonesia.

KLASIFIKASI, JENIS, DAN NILAI BERITA


Berita adalah laporan tercepat mengenai fakta atau ide terbaru yang benar, menarik dan atau penting bagi sebagian besar khalayak, melalui media berkala seperti surat kabar, radio, televisi, atau media on-line internet.
Klasifikasi Berita
Berita dapat diklasifikasikan ke dalam dua kategori: berita berat (hard news) dan berita ringan (soft news).
Jenis-Jenis Berita
1. Straight news report
Adalah laporan langsung mengenai suatu peristiwa.
2. Depth news report
3. Comprehensive news
Merupakan laporan tentang fakta yang bersifat menyeluruh ditinjau dari berbagai aspek.
4. Interpretative report
Penulis mencari fakta
5. Feature story
6. Depth reporting
Adalah pelaporan jurnalistik yang bersifat mendalam, tajam, lengkap dan utuh tentang suatu peristiwa fenomenal atau aktual.
7. Investigative reporting
8. Editorial writting
Adalah pikiran sebuah institusi yang diuji di depan sidang pendapat umum.
Kriteria Umum Nilai Berita
News value merupakan acuan yang yang dapat digunakan oleh para jurnalis untuk memutuskan fakta yang pantas dijadikan berita dan memilih mana yang lebih baik.
MENCARI, MELIPUT, DAN MENULIS BERITA
Mengenali Sumber Berita
Sumber berita harus layak dipercaya dan menyebutkan nama sumber tersebut. Sumber-sumber yang tidak disebutkan identitasnya merupakan isu yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.
Teknik Wawancara Berita
Wawancara berita (news interview) adalah kegiatan tanya-jawab yang dilakukan reporter atau wartawan dengan nara sumber untuk memperoleh informasi menarik dan penting yang diinginkan.
Persyaratan Wawancara Berita
Menurut Jonathan harus memenuhi delapan persyaratan, yaitu:
1. Mempunyai tujuan yang jelas
2. Efisien
3. Menyenangkan
4. Mengandalkan persiapan dan riset awal
5. Melibatkan kepentingan khalayak
6. Menimbulkan spontanitas
7. Pewawancara berfungsi sebagai pengendali
8. Mampu mengembangkan logika
Jenis-jenis Wawancara Berita
Menurut Floyd G. Arpan dalam Toward Better Communications, berdasarkan bentuknya, wawancara dapat dikelompokkan ke dalam tujuh jenis, yaitu:
1. Wawancara sosok pribadi (personal interview)
2. Wawancara berita (news interview)
3. Wawancara jalanan (man in the street interview)
4. Wawancara sambil lalu (casual interview)
5. Wawancara telepon (telephone interview)
6. Wawancara tertulis (written interview)
7. Wawancara kelompok (discussion interview)
Teknik Menulis Berita
Secara universal, berita ditulis dengan teknik melaporkan (to report), merujuk pada pola piramida terbalik (inverted pyramid), dan mengacu kepada rumus 5W1H.
Syarat Judul Berita
Judul yang baik harus memenuhi delapan syarat:
1. Provokatif
2. Singkat-padat
3. Relevan
4. Fungsional
5. Formal
6. Representatif
7. Menggunakan bahasa baku
8. Spesifik
Fungsi Teras Berita
Teras berita memiliki empat fungsi:
- Atraktif
- Introduktif
- Korelatif
- Kredibilitas

REPORTASE


Pengertian Reportase
Reportase adalah kegiatan meliput, mengumpulkan fakta-fakta tentang berbagai unsur berita, dari berbagai sumber/narasumber dan kemudian menuliskannya dalam bentuk berita (produk).
Jenis Reportase :
  1.  yaitu: reportase dasar -  ( straig news)
  2.  reportase madia (menengah) - soft news/ feature
  3. Reportase lanjutan – news analisia
Berita adalah informasi hangat dan aktual yang disajikan kepada umum mengenai apa yang sedang terjadi, tentang apa yang harus dipikirkan dan bagaimana bertindak. Ini berarti, berita adalah laporan kejadian yang tepat pada waktunya, ringkas, cermat, dan kejadian nyata itu sendiri.
Proses Pembuatan Berita.
1. Mencari informasi awal.
Informasi awal dapat diperoleh dari berbagai sumber. Media massa (koran harian, internet, radio, televisi) adalah salah satu sumber informasi yang terus mengalir tak pernah henti. Bisa pula dari berbagai sumber personal, seperti pimpinan lembaga, atau kolega (kenalan) yang bekerja untuk suatu perusahaan dan memiliki cukup informasi tentang perusahaan/lembaga tersebut.
Contoh kejadian: rapat anggaran DPRD, wisuda perguruan tinggi swasta, peresmian cabang baru bank syari’ah, lomba ilmiah remaja, seminar kebebasan pers/berekspresi, peringatan hari bumi, dsb.
2. Memastikan peristiwa yang akan diliput.
Melakukan konfirmasi berarti mengecek kepastian; baik kepastian jadi atau tidaknya acara, kepastian partisipan/peserta, penyelenggara, pihak/pejabat yang akan membuka acara, rangkaian berserta waktu/ lamanya acara, aturan atau tata tertib peliputan (jika ada). Dengan demikian, reporter dapat mempersiapkan segala sesuatu; baik fisik, mental, peralatan, maupun tim peliput.

3. Mendokumentasikan seluruh informasi.
Informasi yang didapatkan setelah peliputan perlu dikumpulkan, disatukan, ‘ditabung’ sehingga siap untuk diolah lebih lanjut menjadi berita. Informasi dapat berupa: keterangan tentang 5W+1H, foto-foto dokumentasi, press release, profil lembaga, pidato, pernyataan tertulis, komentar (wawancara) dua-tiga narasumber, dan kesaksian saksi mata.
Menulis Berita
1. Menetapkan sudut pandang (angle) pemberitaan sesuai (jenis) beritanya.
Reporter menetapkan jenis berita yang akan dibuat (straight, soft/ feature, analysis), kemudian menetapkan sudut pandang (angle) yang menarik. Ukuran menarik ini tentu saja dengan mengingat sebagian besar khalayak yang akan menikmati berita kita.
Angle pada dasarnya adalah penonjolan informasi, sekaligus pintu masuk (entry point) ke dalam berita. Rapat Anggaran DPRD dapat mengambil angle : alokasi anggaran pendidikan sebesar 20%, ‘Harga’ Draft RUU Keistimewaan Yogya 500 juta Realistis/Tidak?, Kenaikan Gaji DPRD melebihi gaji PNS.

2. Menulis seluruh (isi) berita

Dengan angle yang ditetapkan kemudian modal dasar dalam menulis berita adalah seluruh rangkaian informasi yang telah didapatkan, yaitu 5W+1H. Karena sudut pandangnya adalah anggaran pendidikan 20%, maka yang didulukan adalah fakta yang terungkap dalam rapat tentang anggaran tersebut, beserta seluruh argumentasi yang menyertainya. Begitu pula beberapa komentar pelaku (peserta rapat) maupun pakar/ pengamat pendidikan yang sengaja dihubungi untuk dimintai pendapatnya.

3. Mengedit berita, isi maupun bahasa

Jika berita telah jadi, sentuhan terakhir adalah editing, baik isi maupun bahasanya. Editing isi berarti membaca, mengoreksi adakah isi yang kurang, tidak relevan, kurang sesuai, belum menonjol, dan kurang menyeluruh. Dari sisi bahasanya, adakah kalimat yang belum mengalir, sudah sesuaikah antara judul dan lead dan isi seluruh tubuhnya, sudah menggunakan bahasa dan ejaan baku atau belum, dan adakah salah-ketik yang mengganggu pembacaan berita.
Jurnalis yang baik
Reporter Vitalitas
Vitalitas adalah syarat utama wartawan tangguh, yaitu mengerjakan yang biasa-biasa saja dengan cara yang luar biasa. Menjadi reporter bukan pertama-tama karena kecantikan dan kegagahan, bukan keluwesan bergaul, bukanlah rasa ingin tahu, bukan juga pengetahuan luas dan dalam, melainkan ketekunan, kegigihan dan vitalitas. Rangkaian yang menyertai vitalitas itu adalah: menemukan peristiwa dan jalan cerita, cek-ricek-tripel cek jalan cerita, memastikan sudut berita, menentukan lead atau intro, menulis berita.

Alat Kelengkapan Reportase

Reporter dapat disebut profesi multi: peneliti, penulis cerita, editor. Peneliti karena dia harus mengumpulkan berbagai ragam informasi (observasi, wawancara, riset dokumentasi) di lapangan maupun di balik meja agar memiliki informasi yang cukup dan sekaligus valid untuk menulis berita (cerita). Perlengkapan yang diperlukan adalah setumpuk pertanyaan (yang ingin digali atau diketahui) jika mungkin diketik rapi, alat pencatat berupa bloknot dan pena yang mudah dibawa, alat rekam tape recorder kecil, dan kadang ditambah kamera foto. Jika telah memiliki kartu identitas (ID Card) reporter atau wartawan, sebaiknya dibawa untuk identitas dan keamanan.

Memiliki Persyaratan Khusus

Menjadi seorang reporter televisi harus memiliki persyaratan khusus yakni kepekaan sosial. Artinya sebelum meliput suatu peristiwa, atau kejadian di lokasi tempat kejadian ia sudah harus punya asumsi bahwa peristiwa atau kejadian itu punya arti besar bagi masyarakat luas. Apapun peristiwa atau kejadian tersebut.

Karena itu seorang reporter harus mampu mengkaji terlebih dahulu kejadian itu. Misalnya ia ditugaskan untuk meliput demo mahasiswa di Bundaran HI Jakarta Pusat. Ketika pertama kali mendengar penugasan maka pada saat itu pula ia harus berpikir : Apa yang didemo oleh para mahasiswa (=korupsi yang tak pernah tuntas, Pilkada yang curang, kelaparan, susah mendapatkan pekerjaan, susah mendapatkan bensin, dsb), untuk apa mereka demo (=tekanan pada pemerintah agar koruptor dihukum gantung), dengan cara apa mereka berdemo (membawa spanduk, menyetop lalu lintas jalan, membawa patung, membakar ban mobil bekas, melemparkan tekor busuk dsb), berapa banyak mahasiswa yang ikut demo (ratusan ribu, atau hanya 5 orang ), mahasiswa mana saja yang turun ke jalan (perguruan tinggi mana saja, organisasi intra atau ekstra universiter), apakah demo itu efektif atau hanya buang-buang waktu saja. Pertanyaan-pertanyaan ini diperlukan untuk memicu diri reporter tersebut untuk mengambil inisiatif dari mana dia harus memulainya atau merekamnya (dalam back mind) peristiwa tersebut, kemudia ia harus bertanggungjawab agar even tersebut jangan sampai berlalu begitu saja. Artinya reporter harus selalu siap mengambil inisiatif untuk “action” meliput kejadian tersebut.

Apabila seorang calon reporter / wartawan mendapat tugas meliput sebuah acara perkawinan orang terkenal , katakanlah misalnya perkawinan artis /penyanyi Siti Nurhaliza dengan seorang duda beranak empat bernama Datuk K, di Malaysia, tetapi calon reporter itu kembali dengan tangan hampa tanpa membawa berita hanya karena pengantin lelaki tidak muncul dalam jumpa pers, atau karena mantan istri Datuk K tidak hadir dalam akad nikah, maka calon reporter itu tidak layak menjadi seorang reporter.

Setibanya di kantor , ketika Redaktur yang memberi tugas menanyakan “Mana beritanya ?” . Sang calon menjawab “ Maaf Pak, tidak ada sesuatu yang dapat dijadikan berita, karena pengantin lelakinya tidak muncul dalam jumpa pers dan mantan istri Datuk ke Austarlia” Maka sebenarnya, kejadian pengantin lelaki tidak muncul dan mantan istri ke Australia adalah justru suatu berita yang layak menjadi berita.

Menjadi seorang reporter harus mampu mengkaji mana berita besar, berita biasa dan berita ringan. Dan harus ditanamkan pada diri seorang reporter harus kembali ke redaksi dengan membawa berita besar. Atau paling tidak, dapat berita biasa, atau berita ringanpun jadi, asal jagan pulang degan tangan hampa.

Membuat Berita atau Menggagas Berita

Ada dua kategori kegiatan reportase atau peliputan ; membuat suatu berita atau menggagas suatu berita. Dengan kata lain, seorang reporter harus tahu terlebih dahulu apakah keberangkatannya dari kantor hanya untuk membuat berita atau berinisiatif menciptakan atau menggagas suatu berita. Yang dimaksud hanya untuk membuat berita adalah melakukan reportase di lapangan tentang hal-hal yang sudah ditentukan terlebih dahulu sebagai penugasan dari redaktur. Misalnya menghadiri jumpa pers, atau liputan yang sudah direncanakan berdasarkan tematis. Maka beritanyapun hanya seputar jumpa pers.

Sementara liputan inisiatif atau menggagas suatu berita adalah suatu liputan yang tidak terduga atau yang tidak direncanakan sama sekali. Gagasan itu muncul dengan sendirinya ketika menyaksikan atau mendengar kabar telah terjadi dengan tiba-tiba peristiwa tragis, misalnya kecelakaan yang menewaskan seorang ibu yang sedang hamil tua. Atau seorang menteri yang “ngebut” naik motor sendiri guna menghindari kemacetan lalu lintas karena ditunggu rapat kabinet. Menghadapi peristiwa-peristiwa tersebut reporter harus siap mendekat pada tempat kejadian dan mencari tahu siapa ibu hamil yang tertimpa musibah itu. Bagaimana kejadian itu bermula sehingga ibu itu tewas dalam keadaan hamil tua. Dan mempertanyakan siapa menteri yang “ngebut” naik motor itu. Bagaimana komentar orang-orang yang melihatnya, dst.

Reporter televisi tidak seorang diri (one man show) tetapi selalu berdua dengan seorang kamerawan/wati. Kedua orang inilah yang disebut tim reporter, mencerminkan televisi itu media audio visual (narasi dan gambar). Keduanya harus saling mengisi dan selalu bertukar pikiran dalam membuat sebuah liputan agar hasilnya maksimal dan menarik.

Apa yang akan ditulis oleh reporter dan gambar apa yang paling pas untuk menunjang tulisan tersebut. Perpaduan antara narasi dan gambar yang dibuat oleh reporter dan kameramen itulah yang akan ditonton oleh pemirsa. Penonton tidak mau tahu apakah hasil liputan itu dikerjakan oleh seorang atau oleh dua orang, penonton hanya ingin menonton sebuah berita.

Perbedaan antara wartawan media cetak dan tim reporter media televisi tercermin dari teknis reportasenya. Wartawan media cetak cukup dengan hanya selembar press release. Tetapi tidak bagi tim reporter televisi. Tim reporter televisi tidak bisa hanya “mengandalkan” membuat liputan dari press release. Press release hanya dapat dijadikan sebagai informasi awal untuk kemudian dikembangkan di lapangan dengan diback up gambar-gambar yang juga ikut bicara.

Bagaimana cara untuk memadukan kebiasaan membuat berita dengan usaha menggagas berita ?. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh para reporter televisi dalam usahanya mengalihkan kebiasaan membuat berita yang ada menjadi menggagas berita baru.


  1.  
Ambil beberapa nara sumber kemudian meramunya menjadi sebuah berita baru.

  1.  
Ambil beberapa referensi berita yang ada untuk kemudian membuat berita baru dengan sudut pandang (angel) yang berbeda.

  1.  
Ambil referensi lain yang sesuai untuk menciptakan sebuah berita baru yang jauh lebih bernuansa.

Sebagai konsekuensi logis dari sebuah pekerjaan profesionalisme maka setiap reporter televisi dituntut harus kaya dengan ide-ide segar dan bermakna untuk dapat diaplikasikan menjadi sebuah berita televisi. Karena itu setiap reporter televisi dalam menjalankan tugasnya di lapangan haruslah seorang yang “jeli” melihat setiap celah kejadian dalam masyarakat, dengan begitu reporter televisi tidak hanya menunggu perintah atasannya atau hanya menunggu undangan dari instansi lain atau hanya jadi reporter press release. Namun demikian melakukan koordinasi dengan atasan harus tetap menjadi suatu keharusan. Prinsipnya setiap tim reporter keluar “kandang” tidak ada kata pulang dengan tangan hampa dan kamera tanpa gambar.

Menulis berita di TV:
Berita di media televisi dapat disampaikan dalam berbagai format. Untuk menentukan format mana yang akan dipilih, tergantung pada beberapa faktor antara lain: Ketersediaan gambar dan momen terjadinya peristiwa atau perkembangan peristiwa yang akan diberitakan.

Feature (Berita Kisah, Berita Khas)


Apakah yang disebut sebagai feature?
Dalam ilmu jurnalistik, feature merupakan salah satu bentuk tulisan non fiksi, dengan karakter human interest yang kuat. Feature adalah sebuah tulisan jurnalistik juga, namun tidak selalu harus mengikuti rumus klasik 5W + 1 H.
Feature adalah jenis tulisan yang lebih bersifat menghibur, isinya kadang sesuatu yang remeh dan luput dari liputan wartawan straight news, tetapi tidak terlalu terikat dengan tenggat waktu. Ia bisa ditulis kapan saja dan di-publish kapan saja. Karenanya, ia awet.
Menulis feature lebih ’santai’, tidak dituntut tenggat, dan bisa bicara apa saja. Memang konsekuensinya, nilai beritanya tidak ‘hard’ alias tidak banyak diburu orang. Bagaimanapun orang cenderung pada berita terbaru ketimbang yang santai.
Sebuah feature hendaknya ditulis dengan gaya bertutur, deskriptif, sedemikian rupa sehingga susunan kata dan kalimatnya mampu menggambarkan atau melukiskan suatu profil atau peristiwa tertentu. Oleh karena itu, feature sesungguhnya sebuah “cerita”, tapi bukan cerita mengenai fiksi melainkan mengenai fakta. A feature is a story about facts, not about fiction (feature ialah cerita tentang fakta, bukan tentang fiksi). Sedangkan karya tulis tentang fiksi disebut novel, cerita pendek.
Bentuk tulisan feature tidak terpaku pada bentuk piramida terbalik. Justru mengharapkan pembaca mengikuti dengan seksama dari awal hingga akhir tulisan. Kalau diberita langsung (straight news) pembaca cukup membaca paragraf awal tulisan, maka di dalam feature justru inti tulisan baru ditemukan bila membaca dari awal hingga akhir. Dalam penulisan feature agar tidak tersesat kemana mana, tentukan dulu angle/sudut pandang tulisan yang akan memandu arah tulisan.
Fungsi feature mencakup lima hal:
a. Melengkapi sajian berita langsung (straight news).
b. Pemberi informasi tentang suatu situasi, keadaan, atau peristiwa yang terjadi.
c. Penghibur dan pengembangan imajinasi yang menyenangkan.
d. Wahana pemberi nilai dan makna terhadap suatu keadaan atau peristiwa.
e. Sarana ekspresi yang paling efektif dalam mempengaruhi khalayak.
Tulisan feature mempunyai beberapa ciri khas, antara lain:
1. Mengandung segi human interest. Tulisan feature memberikan penekanan pada fakta-fakta yang dianggap mampu menggugah emosi-menghibur, memunculkan empati dan keharuan. Dengan kata lain, sebuah feature juga harus mengandung segi human interest atau human touch-menyentuh rasa manusiawi. Karenanya, feature termasuk kategori soft news (berita ringan) yang pemahamannya lebih menggunakan emosi. Berbeda dengan hard news (berita keras), yang isinya mengacu kepada dan pemahamannya lebih banyak menggunakan pemikiran.
2. Mengandung unsur sastra. Satu hal penting dalam sebuah feature adalah ia harus mengandung unsur sastra. Feature ditulis dengan cara atau gaya menulis fiksi. Karenanya, tulisan feature mirip dengan sebuah cerpen atau novel-bacaan ringan dan menyenangkan-namun tetap informatif dan faktual. Karenanya pula, seorang penulis feature pada prinsipnya adalah seorang yang sedang bercerita.
Jadi, feature adalah jenis berita yang sifatnya ringan dan menghibur. Ia menjadi bagian dari pemenuhan fungsi menghibur (entertainment) sebuah surat kabar.
Ada berapa jenis feature-kah yang selama ini dikenal dalam dunia jurnalistik?
Ada puluhan jenis feature. Mulai dari feature tentang manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, alam, sejarah, antropologi, luar angkasa, hantu-hantu.
Menurut Wolseley dan Campbell terdapat enam jenis feature:
1. Feature minat insani (human interest feature)
2. Feature sejarah (hystorical feature)
3. Feature biografi (biografical feature)
4. Feature perjalanan (travelogue feature)
5. Feature yang mengajarkan keahlian (how-to-do feature)
6. Feature ilmiah (scientific feature)
Berikut ini penjelasan singkat mengenai beberapa jenis feature.
Feature human interest (human interest feature), ialah feature yang langsung menyentuh keharuan, kegembiraan, kejengkelan atau kebencian, simpati, dan sebagainya. Misalnya, cerita tentang penjaga mayat di rumah sakit, kehidupan seorang petugas kebersihan di jalanan, liku-liku kehidupan seorang guru di daerah terpencil, suka-duka menjadi dai di wilayah pedalaman, atau kisah seorang penjahat yang dapat menimbulkan kejengkelan.
Feature sidebar, ialah feature yang memberitakan bagian-bagian lain dari sebuah peristiwa besar yang di dalamnya mengandung unsur human interest. Seperti, nasib para pengungsi yang kehilangan rumah ketika banjir bandang menimpa mereka.
Feature biografi (biografical feature). Misalnya, riwayat hidup seorang tokoh yang meninggal, tentang seorang yang berprestasi, atau seseorang yang memiliki keunikan sehingga bernilai berita tinggi. Itu sebabnya, kamu bisa menuliskan tentang profil para pemimpin Islam di masa lalu, misalnya. Atau kamu juga bisa cerita tentang kisahnya al-Khawarizmi, ilmuwan muslim yang menemukan angka nol.
Feature profil (profile features), menceritakan tentang sisi hidup publik figur, organisasi, dan komunitas masyarakat, misalnya berita tentang proses hidup seorang pengusaha sukses yang berawal dari gelandangan, cerita sukses sebuah LSM dalam membangun masyarakat pedalaman, atau cerita ngiris komunitas masyarakat tertentu. Profile feature tidak hanya cerita sukses saja, tetapi juga cerita kegagalan seseorang. Tujuannya agar pembaca dapat bercermin lewat kehidupan orang lain.
Feature perjalanan (travelogue feature). Misalnya menceritakan pengalaman berkesan dari sebuah perjalanan. Misalnya kunjungan ke tempat bersejarah di dalam ataupun di luar negeri, atau ke tempat yang jarang dikunjungi orang. Dalam feature jenis ini, biasanya unsur subjektivitas menonjol, karena biasanya penulisnya yang terlibat langsung dalam peristiwa/perjalanan itu mempergunakan “aku”, “saya”, atau “kami” (sudut pandang-point of view-orang pertama). Ambil contoh tentang perjalanan menunaikan ibadah haji. Perjalanan ke tanah suci itu bisa kamu tuangkan dalam sebuah tulisan bergaya feature yang menarik. Itu sebabnya, disarankan untuk membawa buku catatan kecil untuk menuliskan semua peristiwa yang dialami sebagai bahan penulisan.
Feature “dibalik layar” (explanatory features), menceritakan tentang apa yang sebenarnya terjadi dibalik suatu peristiwa. Misalnya, cerita/berita tentang fakta-fakta yang menyebabkan buruh mogok kerja.
Feature sejarah (hystorical feature), yaitu feature tentang peristiwa masa lalu, namun masih menarik diberitakan masa kini, seperti berita tentang peran Soeharto pada penumpasan PKI yang sering diberitakan media massa menjelang beliau wafat. Misalnya juga peristiwa Keruntuhan Khilafah Islamiyah, sejarah tentang Istana al-Hamra dan benteng Granada. ‘Melongok’ kejayaan Islam di masa lalu. Sejarah tentang kekejaman tentara Salib saat membantai kaum muslimin, sejarah pertama kali Islam masuk ke Indonesia dan sebagainya. Banyak kok sejarah yang bisa kita tulis dengan jenis feature ini.
Feature musiman (seasonal features), bercerita tentang peristiwa unik dan menarik yang terjadi secara rutin, baik setiap tahun, setiap momen, atau setiap musim. Misalnya, cerita riuh-gembira orang-orang kampung ketika lebaran (hari raya Idul fitri) tiba, dsb.
Feature tren (trend features), ialah feature yang menceritakan tentang gaya hidup komunitas tertentu atau masyarakat pada umumnya dalam jangka waktu tertentu. Misalnya gaya hidup remaja desa ketika HP masuk ke kampung-kampung.
Feature petunjuk praktis (tips), disebut juga how-to-do feature, ialah feature yang menjelaskan tentang bagaimana suatu perbuatan atau aktifitas dilakukan. Misalnya, tentang bagaimana caranya merawat mobil agar irit bensing, memasak, merangkai bunga, membangun rumah, seni mendidik anak, panduan memilih perguruan tinggi, cara mengendarai bajaj, teknik beternak bebek, seni melobi calon mertua (he..he..he..) dan sebagainya.
Feature ilmiah (scientific feature), ialah feature mengenai ilmu pengetahuan dan teknologi yang ditandai oleh kedalaman pembahasan dan objektivitas pandangan yang dikemukakan, menggunakan data dan informasi yang memadai. Feature ilmu pengetahuan dan teknologi dapat dimuat di majalah teknik, komputer, pertanian, kesehatan, kedokteran, dll. Bahkan surat kabar pun sekarang memberi rubrik Science Feature.
Apakah tema-tema berdasarkan bidang / sektor kehidupan bisa diangkat sebagai feature?
Bisa. Misalnya bidang sosial, politik, budaya, ekonomi dll. Sektornya mulai dari kesenian, pemerintahan, perdagangan dll. Namun dalam mengangkat bidang, sektor maupun komoditas yang lebih konkrit menjadi sebuah feature, penulis akan menekankan segi manusianya, binatangnya, tumbuh-tumbuhannya atau alamnya. Bukan menekankan segi permasalahannya. Hal yang terakhir ini lebih tepat diangkat menjadi artikel atau esai.
Secara konkrit, bagaimanakah sebuah feature ditulis?
Misalnya ada kecelakaan pesawat terbang. Straight newsnya adalah berita tentang kecelakaan tersebut. Kemudian ada interpreted news dari maskapai penerbangan, pabrik pesawat, aparat perhubungan, pihak keluarga korban dll. mengenai kecelakaan tersebut. Ada lagi artikel dari seorang pakar cuaca yang mengulas kecelakaan tersebut dari aspek buruknya cuaca pada saat peristiwa terjadi. Feature yang bisa ditulis antara lain: 1- mengenai istri/anak pilot yang menjadi korban; 2- pacar pramugari yang juga menjadi korban; 3- petugas SAR yang tanpa kenal lelah membantu mengumpulkan jasad para korban dll. dengan menekankan segi human interestnya.
Apakah yang disebut sebagai human interest?
Human interest bisa diartikan sebagai rasa kemanusiaan. Hingga feature yang disebut sebagai tulisan yang menekankan segi human interest dimaksudkan sebagai tulisan yang menekankan segi yang bisa menyentuh rasa kemanusiaan pembacanya.
Mengapa segi human interest paling diutamakan dalam sebuah feature?
Karena berita (news) sudah ditampilkan dengan lugas dan dengan bahasa yang sangat formal. Dalam artikel, fakta dan data juga harus dianalisis dengan serius dan diberi opini yang juga harus serius. Agar pembaca media cetak tidak bosan, maka diperlukan sebuah bentuk tulisan yang menekankan segi human interest. Itulah sebabnya segi ini paling diutamakan dalam feature. Dalam perkembangan lebih lanjut, berita pun bisa dikembangkan menjadi news feature, feature reporting, feature story dll. Bahkan dalam perkembangan lebih lanjut, feature juga melahirkan bentuk tulisan yang lebih baru (generasi baru) yang disebut sebagai How To Do It Article (HTDI). Cabang jurnalisme yang pertamakali memperkenalkan bentuk tulisan ini adalah jurnalisme kedokteran/ kesehatan pada abad XVI dan XVII.
Apakah segi human interest tersebut sudah melekat pada meteri tulisan, atau merupakan kreasi penulisnya?
Segi human interest dalam sebuah feature, harus benar-benar faktual (berupa fakta nyata) yang melekat pada materi (bahan) tulisan. Keterampilan penulis hanya dituntut untuk menyeleksi dan mengolah bahan-bahan tersebut, hingga ketika telah menjadi tulisan dan disampaikan ke pembaca, akan bisa menyentuh perasaan. Kalau segi human interest tersebut merupakan hasil imajinasi atau keterampilan berpikir si penulis, maka tulisan tersebut merupakan fiksi, bukan feature.
Apa sajakah yang bisa dikatagorikan sebagai human interest?
Yang bisa dikatagorikan sebagai human interest antara lain: masalah percintaan; perjalanan/perjuangan hidup manusia, hewan, tumbuhan maupun alam (gunung api, bintang); kelahiran/kematian; penderitaan (misalnya derita TKI yang disiksa majikan di LN); ketabahan/ketegaran dalam menghadapi cobaan/godaan dll.
Apakah feature dengan tema penderitaan bisa digunakan untuk menjelek-jelekkan pihak yang mengakibatkan penderitaan tersebut?
Bisa, namun feature tersebut akan menjadi feature propaganda. Nilai sebuah feature propaganda, akan lebih rendah dibanding dengan feature yang benar-benar hanya menceritakan penderitaan seseorang atau sekelompok orang. Sebab yang harus geregetan, marah dsb. adalah pembaca media massa, setelah membaca feature tersebut. Bukan penulisnya.
Bagaimana menulis feature (yang baik)?
Sebelum menulis, pertama-tama pilihlah kasus yang (sangat) menarik, yang menyangkut kepentingan banyak orang (publik), yang prestisius untuk ditulis. Seorang wartawan atau penulis yang baik dan berpengalaman biasanya memiliki nose of news (daya cium, daya endus berita), yang akan selalu bisa terasah jika ia memiliki “jam terbang” cukup tinggi. Tapi, nose of news selalu bisa dilatih. Setelah menemukan obyek, kasus atau item tulisan, pikirkanlah apa kira-kira angle-nya. Yang dimaksud dengan angle ialah “sudut pandang”, apa kira-kira masalah yang sangat penting dan relevan dari kasus tersebut. Untuk menentukan angle biasanya cukup sulit, sehingga diperlukan pemikiran, perenungan, bahkan diskusi dengan kawan-kawan.
Bagaimana trik atau cara menulis feature?
Sebetulnya hampir sama dengan teknik menulis artikel lainnya, hanya saja dalam menulis feature kita dituntut untuk lebih ‘menyentuh’ dan memberikan nuansa lain dari sekadar sebuah berita. Itu sebabnya, feature bisa berfungsi sebagai penjelasan atau tambahan untuk berita yang sudah disiarkan sebelumnya, memberi latar belakang suatu peristiwa, menyentuh perasaan dan mengharukan, menghidangkan informasi dengan menghibur, juga bisa mengungkap sesuatu yang belum tersiar sebagai berita.
Yang perlu mendapat perhatian dalam penulisan feature ini, adalah lead yang menarik. Nah, lead dalam feature inilah yang sepertinya penting, meski bukan pokok memang. Bahkan jangan lupa, selain lead, kita juga harus membuat tubuh dan endingnya dari tulisan tersebut. Sangat boleh jadi ‘ending’ sebuah feature sama pentingnya dengan lead. Jadi rasa-rasanya harus bisa menarik dan menggoda pembaca. Misalnya memberikan kesimpulan atau mungkin ada ‘celetukan’ atau sindiran yang menggoda pembaca. Di sinilah editor biasanya paling pusing untuk memotong tulisan jenis feature, nggak gampang lho. Sama sulitnya dengan ‘mengobrak-abrik’ naskah cerpen. Kenapa? Karena semua bagian dalam feature itu penting. Itu saja.
Nah, harus diakui bahwa yang terpenting dalam pembuatan tulisan berjenis feature ini adalah lead. Kekuatannya ada di sana. Lead ibarat pembuka jalan. Jadi upayakan benar-benar menarik dan mengundang rasa penasaran pembaca untuk terus membaca. Sebab, gagal dalam menuliskan lead pembaca bisa ogah meneruskan membaca. Gagal berarti kehilangan daya pikat. Itu sebabnya, penulis feature harus pintar betul menggunakan kalimatnya. Bahasa rapi, terjaga, bagus dan kelihaian dalam cara memancing itu haruslah jitu. Memang sih, tak ada teori yang baku tentang menulis lead sebuah feature.